Saat ini tengah beredar kabar soal tarif Transjabodetabek yang kemungkinan bakal naik. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengaku, sedang mengkaji penyesuaian tarif untuk sejumlah rute Transjabodetabek yang menghubungkan Jakarta dengan wilayah penyangga seperti Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang, dan Tangerang Selatan.
Meski begitu, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung memastikan transportasi umum tersebut tetap akan mendapat subsidi sehingga tarifnya tidak akan dibebankan sepenuhnya kepada penumpang.
Enggak mungkin enggak disubsidi, pasti tetap akan disubsidi,”
kata Pramono seperti dikutip dari Berita Jakarta.
Menurutnya, penyesuaian tarif dilakukan karena biaya operasional yang harus ditanggung pemerintah semakin besar.
Saat ini tarif Transjabodetabek masih sekitar Rp3.500, sementara biaya riil yang dikeluarkan untuk setiap penumpang mencapai sekitar Rp15.000.
Artinya, Pemprov DKI masih menanggung subsidi sekitar Rp11.500 untuk setiap perjalanan penumpang.
Kenapa Tarif Transjabodetabek Dianggap Perlu Naik?
Pengamat kebijakan kota, Zulfikar Marikar menilai penyesuaian tarif merupakan hal yang wajar untuk dikaji.
Pasalnya, tarif Transjakarta yang menjadi bagian dari sistem Transjabodetabek belum mengalami perubahan sejak pertama kali beroperasi pada 2005.
Padahal layanan tersebut terus berkembang mulai dari penambahan armada, perluasan koridor, integrasi dengan moda transportasi lain, hingga penggunaan sistem pembayaran digital.
Menurut Zulfikar, subsidi untuk layanan Transjakarta pada APBD DKI Jakarta 2026 mencapai Rp3,75 triliun atau sekitar 4,6 persen dari total APBD sebesar Rp81,32 triliun.
Ia menilai semakin besar subsidi yang harus ditanggung pemerintah, semakin kecil pula ruang anggaran untuk sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, pengendalian banjir, dan pembangunan infrastruktur.
Karena itu, rencana penyesuaian tarif Transjakarta layak dikaji secara serius dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat, kualitas layanan, serta keberlanjutan daerah,”
kata Zulfikar.
Tarif Naik, Pemprov Tak Mau Warga Balik Naik Kendaraan Pribadi
Meski ada wacana kenaikan tarif, Pramono menegaskan pemerintah tidak ingin kebijakan tersebut justru membuat masyarakat meninggalkan transportasi umum dan kembali menggunakan kendaraan pribadi.
Karena itu, besaran tarif baru akan dihitung secara matang dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat.
Salah satu rute yang disebut berpotensi mengalami penyesuaian tarif adalah layanan Blok M-Bandara Soekarno-Hatta.
Menurut Pramono, tarif Rp3.500 untuk perjalanan sejauh itu masih tergolong sangat murah dibandingkan moda transportasi lain seperti bus bandara atau taksi.
Kalau kemudian Rp3.500 untuk parkir di Soekarno-Hatta saja tidak cukup, maka yang begitulah akan ada penyesuaian,”
ujar Pramono.
Daftar 18 Rute Transjabodetabek yang Saat Ini Disubsidi
Per Juni 2026 nanti, terdapat 18 rute Transjabodetabek yang mendapat subsidi dari Pemprov DKI Jakarta, yaitu:
- P11 Blok M – Bogor
- Rute Depok
- D11 Depok – Cawang
- D21 Universitas Indonesia – Lebak Bulus
- D41 Sawangan – Lebak Bulus
- Rute Bekasi
- B11 Summarecon Bekasi – Cawang
- B21 Bekasi Timur – Cawang
- B41 Vida Bekasi – Cawang
- B51 Cawang – Cikarang/Jababeka
- Rute Tangerang dan Tangerang Selatan
- T11 Poris Plawad – Petamburan
- T12 Poris Plawad – Juanda
- S11 BSD – Jelambar
- S21 Ciputat – CSW
- S22 Ciputat – Kampung Rambutan
- S61 Alam Sutera – Blok M
- SH1 Kalideres – Perkantoran Bandara Soekarno-Hatta
- SH2 Blok M – Bandara Soekarno-Hatta
- Rute PIK 2
- T31 PIK 2 – Blok M
Saat ini Pemprov DKI masih membahas skema penyesuaian tarif tersebut. Jika nantinya resmi diberlakukan, pemerintah memastikan subsidi tetap diberikan agar transportasi publik tetap terjangkau sekaligus menjaga keberlanjutan operasional layanan Transjabodetabek.


