Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menilai, penguatan nilai tukar rupiah dan Indeks Saham Gabungan (IHSG) dalam dua hari terakhir merupakan pertanda baik. Namun, sejumlah peringatan diberikan kepada pemerintah.
Rupiah pada penutupan perdagangan Rabu, 10 Juni 2026 menguat 0,63 persen ke level Rp19.944 per dolar Amerika Serikat (AS). Sedangkan IHSG ditutup menguat 2,71 persen ke level 5.902.
Alhamdulillah, ada good news untuk kita semua dua hari ini 9-10 Juni 2026, rupiah dan IHSG menguat secara signifikan. Selamat dan terima kasih untuk negara dan pemerintah. Semoga ini merupakan awal dan pertanda baik ~ “a good beginning”,”
kata SBY lewat akun X @SBYudhoyono dikutip Kamis, 11 Juni 2026.
Pemerintah Bisa Atasi Tekanan
SBY menilai, penguatan ini menunjukkan bahwa pemerintah masih memiliki sumber daya politik dan ekonomi untuk mengatasi tekanan saat ini.
Kabar baik ini membuktikan apa yang saya sampaikan bulan Mei 2026 yang lalu tidak keliru. Pemerintah, tentunya pemimpin kita Presiden Prabowo Subianto, masih memiliki sumber daya politik dan ekonomi untuk mengatasi tekanan ekonomi yang kita rasakan saat ini. Masih tersedia opsi dan solusi dari otoritas moneter dan fiskal kita,”
jelasnya.
SBY menilai, penguatan rupiah dan IHSG ini karena sinergi kebijakan antara Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Menurutnya, jika pemerintah belum juga berhasil mengendalikan rupiah dan IHSG, maka pelemahan keduanya dikhawatirkan tidak bisa lagi dikendalikan.
Kalau tidak, pelemahan saham dan mata uang kita bisa unstoppable. Pasalnya, sudah menjadi satu antara faktor real economy, utamanya situasi fiskal dan APBN kita termasuk beban utang yang melilit, dengan faktor psikologis dan persepsi pasar yang tidak positif,”
terangnya.

Ingatkan Pemerintah
SBY pun memperingatkan agar pemerintah melakukan langkah-langkah stabilisasi ekonomi. Beberapa hal yang harus dilakukan adalah menyehatkan APBN, membatasi dan mengendalikan jumlah utang, mencegah kenaikan harga barang atau jasa, serta memulihkan kepercayaan investor.
Kita berharap Pemerintah terus melakukan langkah-langkah stabilisasi ekonomi, menyehatkan APBN kita. Membatasi dan mengendalikan jumlah utang pemerintah. Mencegah terjadinya kenaikan harga barang dan jasa yang bisa memukul kehidupan rakyat,”
terangnya.
Kemudian pemerintah diharapkan bisa memulihkan kembali kepercayaan investor, meningkatkan komunikasi yang lebih efektif sehingga kebijakan dan langkah pemerintah dimengerti oleh rakyat dan market.
Menghentikan berbagai spekulasi dan ketidakpastian. Yang tidak kalah pentingnya, melindungi rakyat kita yang sangat terdampak dengan situasi ekonomi, termasuk dampak dari kenaikan harga BBM,”
terangnya.
Bukan tanpa alasan peringatan itu diberikan, SBY menyatakan telah kenyang dalam menangani tekanan ekonomi saat ia menjabat sebagai Presiden RI.
Saya tahu, karena kenyang dalam menangani tekanan ekonomi seperti ini ketika memimpin Indonesia dulu, semua ikhtiar pemerintah ini tentu memerlukan waktu. Perlu dukungan publik yang lebih kuat ingat, ‘in crucial thing, unity’. ‘In important thing, dialogue’ dan diwadahinya keragaman pandangan yang konstruktif. Pikiran yang rasional, kebijakan yang tepat dan aksi-aksi nyata yang serius menjadi sangat penting,”
imbuhnya.




