Nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,24 persen atau 43 poin ke level Rp17.946 per dolar AS, pada perdagangan Jumat, 12 Juni 2026.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengungkapkan penguatan rupiah ini didorong oleh pernyataan Presiden Donald Trump bahwa kesepakatan damai dengan Iran akan terjadi dalam waktu dekat.
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS oleh harapan damai di Timur Tengah, menyusul pernyataan Trump bahwa kesepakatan dengan Iran akan terjadi dalam waktu dekat,”
ujar Lukman saat dihubungi Owrite.id, Jumat, 12 Juni 2026.
Sedangkan dari dalam negeri, sentimen penguatan rupiah berasal dari ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) hingga rencana pemangkasan anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, investor akan mencermati demo yang direncanakan berlangsung pada hari ini.
“Sentimen umum masih kuat, oleh ekspektasi kenaikan suku bunga BI pekan depan dan kabar bahwa anggaran MBG akan kembali dikurangi. Namun, investor akan mencermati demo hari ini,”
jelas Lukman.
Lukman memproyeksikan di akhir perdagangan pekan ini rupiah akan bergerak menguat melawan dolar AS di kisaran Rp17.900-Rp18.000.
Mata Uang Asia
Bila dibandingkan dengan negara di Asia, Yuan Tiongkok (CNY) menguat 0,14 persen terhadap dolar AS, Won Korea (KRW) naik 0,73 persen, Ringgit Malaysia (MYR) menguat 0,18 persen, Peso Filipina (PHP) 0,38 persen.
Sedangkan mata uang negara Asia yang melemah yakni Rupee India (INR) anjlok 0,51 persen, Yen Jepang (JPY) melemah 0,20 persen, Dolar Singapura (SGD) turun 0,05 persen, dan Baht Thailand (THB) merosot 0,07 persen melawan dolar AS.



