Harga emas yang selama ini sering melesat di saat dunia dilanda konflik, kini justru mengalami tren pelemahan sepanjang 2026. Harga emas yang dikenal sebagai aset aman (safe haven) justru kini kehilangan daya tarik usai memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel Vs Iran.
Dalam kondisi geopolitik yang tidak menentu, emas biasanya menjadi pilihan investor untuk melindungi nilai kekayaan dari inflasi dan gejolak pasar. Namun, kondisi tersebut tidak terjadi kali ini.
Mengutip laporan Al Jazeera, harga emas turun dari posisi tertinggi US$5.303 per troy ounce pada 28 Januari 2026 menjadi sekitar US$4.235 per troy ounce pada Jumat, 13 Juni 2026. Penurunan ini terjadi setelah konflik berkepanjangan yang melibatkan AS, Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026.
Inflasi dan Suku Bunga Jadi Faktor Utama
Para analis menilai tekanan terhadap harga emas berasal dari meningkatnya inflasi global yang memicu ekspektasi bahwa bank sentral, khususnya Federal Reserve (The Fed), tidak akan segera memangkas suku bunga.
Sebaliknya, pasar justru mulai memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang. Kondisi ini membuat emas kehilangan daya tarik dibandingkan instrumen investasi lain yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Kenaikan inflasi sendiri dipicu oleh terganggunya arus perdagangan energi di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak dan gas terpenting di dunia. Gangguan distribusi energi menyebabkan harga minyak meningkat dan berdampak pada kenaikan inflasi di berbagai negara.
Di Amerika Serikat, tingkat inflasi tercatat mencapai 4,2 persen, tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Sementara itu, pasar tenaga kerja masih relatif kuat sehingga peluang penurunan suku bunga semakin kecil.

Mengapa Suku Bunga Menekan Harga Emas?
Sementara itu, berbeda dengan deposito atau obligasi, emas tidak menghasilkan bunga maupun dividen. Keuntungan investor hanya berasal dari kenaikan harga emas itu sendiri.
Karena itu, ketika suku bunga naik, investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang memberikan imbal hasil lebih tinggi. Akibatnya, permintaan terhadap emas menurun dan harga ikut tertekan.
Analis pasar dari OptionSpreaders.com, Justin Cardwell, mengatakan emas merupakan aset yang nilainya sangat bergantung pada apresiasi harga. Saat suku bunga tinggi, investor memiliki banyak alternatif investasi yang lebih menarik.

Penguatan Dolar AS Ikut Menekan Emas
Selain itu, faktor lain yang menekan harga emas adalah menguatnya dolar AS. Konflik Timur Tengah justru mendorong investor global memburu dolar sebagai aset lindung nilai. Karena emas diperdagangkan dalam denominasi dolar AS, hubungan keduanya cenderung berlawanan arah.
Ketika nilai dolar menguat, harga emas biasanya melemah. Sebaliknya, saat dolar melemah, harga emas berpotensi naik.
CEO Noble Gold Investments, Collin Plume, menilai pasar saat ini sedang menghadapi kombinasi inflasi tinggi dan potensi kenaikan suku bunga. Menurutnya, faktor suku bunga masih menjadi tekanan terbesar bagi harga emas sepanjang tahun ini.

Peluang Harga Emas ke Depan
Meski masih berada dalam tren melemah, sejumlah analis menilai harga emas belum tentu akan turun lebih dalam.
Munculnya kabar mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran sempat mendorong harga emas menguat tipis pada perdagangan Jumat lalu. Pasar menilai berakhirnya konflik berpotensi menurunkan tekanan inflasi dalam jangka menengah.
Namun demikian, para pengamat memperkirakan dampak penurunan inflasi tidak akan terjadi secara instan. Selain konflik geopolitik, arah suku bunga global dan pergerakan dolar AS masih akan menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan harga emas hingga akhir 2026.



