Video pemusnahan barang bukti narkotika jenis sabu seberat 70 gram oleh Polres Lombok Utara jadi perbincangan di media sosial. Aksi yang memperlihatkan sabu dimasukkan ke dalam blender itu memicu beragam reaksi dari warganet.
Banyak pertanyaan dari warganet mulai dari efektivitas metode tersebut hingga menyoroti aspek keselamatan petugas yang terlibat.
Video itu viral setelah diunggah akun Instagram @thesmartlocalid. informasi yang beredar, sabu yang dimusnahkan merupakan barang bukti hasil pengungkapan sejumlah kasus narkotika selama Mei 2026.
Di tengah ramainya perdebatan publik, muncul sejumlah pertanyaan. Benarkah sabu dapat dimusnahkan menggunakan blender? Mengapa petugas tetap perlu menggunakan alat pelindung diri? Lalu, ada juga pertanyaan mengapa barang bukti tidak langsung dibakar?
Bukan Sekadar Hancurkan Kristal Sabu
Metode pemusnahan menggunakan blender sebenarnya bukan bertujuan hanya untuk menghancurkan bentuk fisik sabu.
Mengutip kajian yang dipublis Ejournal UIK, Rabu, 17 Juni 2026, teknik blender biasanya diterapkan sebagai metode pelarutan kimiawi untuk barang bukti narkotika dalam jumlah relatif kecil.
Dalam prosesnya, kristal sabu dicampurkan dengan air dan bahan kimia seperti deterjen, karbol, atau cairan pembersih lainnya. Campuran itu kemudian diblender hingga larut sempurna.
Tujuan utama proses itu agar merusak struktur kimia metamfetamin. Dengan demikian, zat aktif yang terkandung di dalamnya tidak lagi dapat digunakan maupun disalahgunakan.
Dengan cara itu, jadi yang dihancurkan bukan hanya bentuk kristalnya. Tapi, juga fungsi kimia dari narkotika tersebut.
Setelah dipastikan larut dan tak lagi memiliki fungsi sebagai narkotika, cairan hasil pemusnahan kemudian dibuang melalui saluran yang telah ditentukan sesuai prosedur.
Risiko Paparan Disorot
Selain metode pemusnahan, perhatian publik juga tertuju pada aspek keselamatan petugas.
Pasalnya, ada warganet menyoroti petugas yang tampak tak menggunakan masker saat proses pemusnahan berlangsung.
Padahal, penggunaan alat pelindung diri merupakan bagian penting dalam penanganan barang bukti narkotika.
Alat pelindung penting karena saat kemasan sabu dibuka dan zat dituangkan ke dalam blender, ada kemungkinan partikel-partikel halus beterbangan dan terhirup oleh petugas.
Risiko lainnya muncul dari putaran blender berkecepatan tinggi yang bisa menghasilkan aerosol atau percikan partikel mikro yang membawa residu zat aktif maupun campuran bahan kimia.
Tak hanya itu, pencampuran sabu dengan cairan pembersih juga berpotensi menghasilkan uap yang bisa mengganggu Kesehatan. Hal itu terutama pada mata, hidung, dan saluran pernapasan.
Karena itu, petugas umumnya disarankan menggunakan masker respirator seperti N95, sarung tangan, serta kacamata pelindung untuk meminimalkan risiko paparan.
Mengapa Tidak Langsung Dibakar?
Pertanyaan lain yang ramai muncul adalah alasan sabu tidak langsung dimusnahkan melalui pembakaran.
Secara umum, metode pembakaran menggunakan mesin incinerator memang jadi standar yang paling sering digunakan untuk memusnahkan narkotika dalam jumlah besar.
Mesin incinerator bekerja pada suhu sangat tinggi, sekitar 800 hingga 1.000 derajat Celsius. Pada suhu itu, senyawa kimia narkotika bisa dihancurkan secara menyeluruh hingga hanya menyisakan abu.
Namun, fasilitas incinerator belum tersedia di semua daerah. Sebab, fasilitas itu membutuhkan sarana khusus. Begitu pun penggunaan alat tersebut juga memerlukan biaya operasional dan prosedur tertentu.
Dengan keterbatasan itu, metode pelarutan kimiawi menggunakan blender masih digunakan sebagai alternatif pemusnahan barang bukti dalam jumlah kecil.
Meskipun berbeda metode, tujuan akhirnya tetap sama. Tujuannya untuk memastikan zat narkotika telah rusak dan tak lagi bisa digunakan ataupun diedarkan kembali.


