Para pengrajin tempe dan tahu Tanah Air menjerit imbas perang di Timur Tengah. Mereka kini harus menanggung beban biaya produksi yang lebih mahal seperti kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), plastik kemasan, hingga ongkos angkutan.
Sekretaris Jenderal Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), Wibowo Nurcahyo mengatakan saat ini keberlangsungan usaha para pengrajin tempe dan tahu tengah tertekan. Bahkan, mereka secara bertahap sudah mulai menaikkan harga hingga 20 persen.
Sangat (tertekan pengerajin tempe dan tahu). Naik bertahap 10-20 persen kenaikannya (tahu dan tempe),”
ujar Wibowo saat dihubungi Owrite.id Sabtu, 20 Juni 2026.
Beban yang Ditanggung


Berdasarkan data Gakoptindo, sejak Januari hingga Juni 2026 kenaikan harga BBM Pertamax, plastik kemasan, dan ongkos angkutan telah meningkatkan biaya operasional lebih dari 24 persen, dan rata-rata beban biaya pendukung naik 36,24 persen.
Dijelaskan, kenaikan Pertamax kini sudah mencapai 31,58 persen. Hal ini karena harga Pertamax per Januari 2026 sebesar Rp12.350 per liter, namun di Juni sudah mencapai Rp16.250 per liter.
Kemudian untuk plastik kenaikan tembus 57,14 persen, yang mana per Januari 2026 harganya Rp35.000 per kilogram (kg) tapi kini sudah Rp55.000 per kg. Sedangkan untuk ongkos angkutan truk 1 ton jarak menengah, pada Januari biaya sebesar Rp1,5 juta per trip kini menjadi Rp1,8 juta per trip atau naik 20 persen.
Gakoptindo mencontohkan kenaikan biaya pada usaha tempe tahu skala kecil. Bila BBM 100 liter di Januari dibeli seharga Rp1.235.000, kini harga yang harus dibayarkan sebesar Rp1.625.000 atau naik Rp390 ribu.
Untuk plastik 50 kg di Januari biayanya sebesar Rp1.750.000, tapi saat ini seharga Rp2.750.000 atau naik Rp1 juta. Lalu angkutan 10 trip sebelumnya sebesar Rp15 juta kini senilai Rp18 juta, atau naik Rp3 juta per 10 trip.
Artinya, total biaya operasional di Januari dari yang hanya cukup mengeluarkan uang senilai Rp17.985.000, kini di Juni para pengrajin harus mengeluarkan biaya sebesar Rp22.375.000. Sehingga kenaikan yang harus ditanggung sebesar 24,2 persen atau Rp4.390.000.
Dampak Kenaikan


Adapun dengan kondisi ini margin para pengrajin tempe dan tahu sudah menipis. Kemudian ukuran produk menjadi lebih kecil, langkah ini dilakukan untuk menjaga harga jual tetap sehingga sebagian pengrajin mengambil jalan ini.
Selain itu pengrajin sudah mengurangi volume produksi karena modal kerja yang tidak mencukupi, pengrajin menghadapi kesulitan modal usaha, dan penurunan daya saing. Bahkan, karena kondisi ini pengrajin skala kecil berisiko berhenti usaha.
Maka dari itu, Gakoptindo meminta kepada pemerintah agar memberikan dukungan dan intervensi. Beberapa diantaranya program subsidi kedelai untuk menjaga keberlangsungan usaha pengrajin serta stabilitas harga pangan.





















