PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI mencermati potensi dampak kenaikan suku bunga terhadap permintaan kredit, imbas kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia. BI Rate atau suku bunga telah dinaikkan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen.
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan kondisi fundamental BNI saat ini tetap kuat. Sehingga perseroan optimistis dapat terus menjalankan fungsi intermediasi secara sehat dan berkelanjutan.
BNI juga memiliki permodalan, likuiditas, dan kualitas aset yang memadai untuk mendukung pertumbuhan bisnis di berbagai segmen,”
kata Okki dalam keterangannya Sabtu, 20 Juni 2026.
BNI Pantau Permintaan Kredit
Namun, Perseroan mencermati potensi dampak kenaikan suku bunga terhadap permintaan kredit. BNI akan terus mengelola portofolio bisnis secara selektif dan adaptif dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian, sekaligus memastikan dukungan pembiayaan tetap tersedia bagi sektor-sektor produktif yang menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.
Di samping itu, Okki mengatakan keputusan Bank Indonesia tersebut merupakan bagian dari bauran kebijakan yang perlu ditempuh untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus memperkuat kepercayaan pelaku usaha dan investor terhadap prospek ekonomi nasional.
BNI mendukung kebijakan Bank Indonesia sebagai langkah antisipatif dalam merespons meningkatnya ketidakpastian global. Kebijakan yang terukur dan kredibel menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan pasar serta mendukung keberlanjutan aktivitas ekonomi,”
katanya.


Perkuat Kinerja
Adapun di tengah dinamika suku bunga, Okki menyatakan bahwa BNI memperkuat transformasi digital untuk meningkatkan efisiensi layanan dan proses bisnis.
Selain itu, Perseroan turut memperkuat penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG) dan manajemen risiko yang prudent. Perseroan juga terus meningkatkan kualitas pengelolaan risiko melalui pemantauan yang berkelanjutan terhadap portofolio kredit, likuiditas, serta perkembangan kondisi ekonomi dan pasar.
Dengan fokus pada transformasi, penguatan tata kelola, dan pengelolaan risiko yang disiplin, BNI terus berupaya menjaga kinerja yang sehat serta memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi nasabah, pemegang saham, dan seluruh pemangku kepentingan,”
terangnya.
Lebih lanjut, BNI akan terus mencermati perkembangan makroekonomi dan arah kebijakan moneter untuk memastikan strategi bisnis tetap adaptif.
Perseroan berkomitmen menjaga pertumbuhan yang berkualitas, memperkuat ketahanan bisnis, serta terus memperluas kontribusi dalam mendukung sektor-sektor produktif yang menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia,”
ujarnya.























