Penurunan harga minyak mentah dunia belum diikuti oleh penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi di Indonesia.
Situasi ini memicu tanda tanya di kalangan masyarakat, terutama karena sebelumnya kenaikan harga BBM dilakukan dengan alasan mengikuti lonjakan harga energi global.
Analis Kebijakan Publik Faisal Sallatalohy menjelaskan, bahwa mekanisme penyesuaian harga BBM sebenarnya telah diatur secara jelas dalam regulasi pemerintah.
Formulasi penyesuaian harga BBM non-subsidi diatur dalam Kepmen ESDM Nomor 245 Tahun 2022. Dilakukan sebulan sekali dengan merujuk pada selisih ICP terhadap harga internasional, pergerakan nilai tukar dan inflasi,”
kata Faisal Sallatalohy saat dihubungi Owrite, Rabu, 24 Juni 2026.
Menurutnya, pada 10 Juni lalu Pertamina menaikkan harga Pertamax dengan mengacu pada kenaikan harga minyak global yang terjadi pada periode sebelumnya.
Merujuk aturan tersebut, pada 10 Juni lalu Pertamina naikkan harga Pertamax menyesuaikan kenaikan harga global Mei-April yang mencapai 106,56 dolar AS hingga 117,31 dolar AS per barel,”
ujarnya.
Namun kondisi pasar energi dunia kini telah berubah drastis. Harga minyak mentah global mengalami koreksi cukup dalam dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
Kini, per 24 Juni 2026, harga minyak dunia Brent turun ke level 77 dolar AS per barel dan WTI di angka 73 dolar AS per barel,”
ungkapnya.
Penurunan tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengapa harga BBM di dalam negeri belum ikut disesuaikan.
Kenapa Kementerian ESDM dan Pertamina belum menyesuaikan penurunan harga padahal punya kewajiban secara regulasi?”
tanya Faisal.
Ia menjelaskan, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan harga BBM belum otomatis turun meskipun harga minyak dunia mengalami penurunan.
Faktor pertama adalah mekanisme waktu penyesuaian harga atau lag time yang diterapkan dalam kebijakan harga BBM.
Pertama soal lag time. Penyesuaian baru akan dilakukan pada 10 Agustus mendatang sesuai periodisasi penetapan end user price yang dianut Pertamina,”
jelasnya.
Selain itu, terdapat faktor lain yang dinilai sangat menentukan, yakni kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Diungkapkan Faisal, penurunan harga minyak dunia tidak akan langsung memberikan dampak terhadap harga BBM jika pelemahan rupiah terjadi lebih besar dibandingkan penurunan harga energi global.
Kedua, meskipun harga minyak dunia turun, tidak otomatis harga BBM turun jika depresi rupiah lebih dalam dari penurunan harga minyak global,”
tutup Faisal.

























