Sosiolog Jannus TH Siahaan memberi tanggapan terkait kasus penganiayaan yang dilakukan Taufik Hidayat (30) terhadap kekasihnya Yuvita Tri Rezeki (29).
Menurutnya, kasus ini bukan hanya kejahatan individual, tapi manifestasi ekstrem dari relasi kuasa yang timpang dalam sebuah hubungan.
Dalam banyak masyarakat, relasi pacaran atau pasangan masih sering dibangun di atas logika kepemilikan, di mana satu pihak merasa memiliki hak atas tubuh, waktu, dan kebebasan pihak lain,”
ujar Jannus kepada Owrite.
Namun, lanjut Jannus, ketika kontrol tersebut tidak dibatasi oleh norma sosial yang sehat atau pengawasan lingkungan, ia dapat berkembang menjadi dominasi total, bahkan hingga penyekapan.
Kasus ini memperlihatkan bagaimana ruang privat bisa menjadi lokus kekerasan yang sangat tertutup dan sulit terdeteksi,”
ucapnya.
Jannus menambahkan, kerentanan seseorang untuk dikendalikan pasangannya biasanya tidak muncul secara tiba-tiba, tapi dibentuk oleh kombinasi faktor sosial.
Misalnya, isolasi sosial (kurangnya jaringan teman atau keluarga), ketergantungan ekonomi atau emosional, rendahnya kepercayaan diri, serta normalisasi relasi tidak setara sejak dini,”
paparnya.
Selain itu, konstruksi budaya yang mengajarkan bahwa “cinta harus berkorban” sering kali membuat individu mengabaikan batas sehat dalam hubungan.
Korban Terjebak Hubungan Toxic
Jannus mengatakan bahwa banyak orang yang terjebak dalam hubungan toxic, di mana pasangannya melalukan kekekerasan fisik maupun verbal. Mereka tetap bertahan karena pelaku biasanya tidak selalu melakukan tindakan tersebut.
Pelaku tidak selalu kasar, sering kali ada fase “bulan madu” yang membuat korban berharap perubahan. Selain itu, ada faktor ketakutan (ancaman fisik/atau psikologis), rasa malu, stigma sosial, serta keyakinan bahwa keluar dari hubungan akan membawa konsekuensi yang lebih buruk,”
pungkasnya.
Bahkan, lanjut Jannus, dalam kondisi ekstrem, korban bisa mengalami distorsi realitas, di mana mereka mulai membenarkan tindakan pelaku.



















