Dalam kisah percintaan saat ini, muncul berbagai istilah baru untuk menggambarkan kondisi hubungan yang tidak sehat. Salah satu yang lagi ramai dibahas di media sosial adalah seagulling, yang sering dibandingkan dengan ghosting karena dianggap merugikan secara emosional.
Apa Itu Seagulling?
Seagulling merupakan kondisi ketika seseorang tidak mau berkomitmen dengan kamu, tapi juga tidak mau kamu dimiliki orang lain. Jadi kamu “ditahan” dikasih perhatian secukupnya agar tetap dekat, tetapi tidak pernah benar-benar dipilih.
Ibaratnya, kamu hanya dijadikan cadangan, tidak dilepas, tapi juga tidak dijadikan prioritas. Kalau bahasa anak sekarang, “gue nggak mau sama lo, tapi lo juga nggak boleh sama orang lain.”
Mirip dengan istilah seperti stringing along, tapi dengan nuansa posesif yang lebih kuat.
Ciri-Ciri Seagulling yang Perlu Kamu Waspadai
Perilaku ini seringkali tidak langsung kelihatan jelas. Tapi kalau diperhatikan, ada beberapa tanda yang cukup khas, seperti:
- Tidak ada kejelasan status, tapi tetap chat setiap hari, kadang ketemu seolah ada “hubungan”.
- Kamu disembunyikan dari lingkaran sosialnya, tidak pernah dikenalin ke teman atau keluarga.
- Tiba-tiba cemburu, meskipun tidak ada kejelasan hubungan.
- Sering dikasih harapan, tetapi cuma lewat kata-kata tanpa aksi nyata.
- Sulit melepas, terutama saat kamu mulai mencoba move on.
Fenomena ini cukup sering terjadi, apalagi di kalangan Gen Z dan milenial yang aktif di aplikasi dating apps, yang menyediakan banyak pilihan, sehingga enggan untuk “membuang” opsi cadangan.
Kenapa Seagulling Lebih Toxic dari Ghosting?
Sekilas, ghosting (menghilang tanpa kabar) memang menyakitkan. Tapi seagulling bisa dibilang lebih tricky dan berbahaya secara emosional.
Karena seagulling membuat kamu stuck di situasi tidak jelas dan dalam jangka waktu yang lama. Selain itu, seagulling juga bisa menggerus rasa percaya diri, karena kamu merasa “cukup untuk dipertahankan, tapi tidak cukup untuk dipilih”.
Tak hanya itu, fenomena ini juga bisa menghambat move on, karena terus diberi harapan tapi tidak ada kepastian. Dan sering kali memunculkan rasa bersalah, seolah-olah kamu yang terlalu menuntut.
Dari sisi psikologis, sebenarnya perilaku ini sering dipicu oleh ego, kebutuhan kontrol, atau takut kesepian, bukan karena benar-benar sayang.
Cara Menghadapi Seagulling
Kalau kamu mulai merasa ada di posisi ini, penting untuk mengambil langkah tegas, seperti:
- Tanyakan status hubungan secara langsung dan minta komitmen.
- Jika jawaban yang diberikan mutar-mutar atau nggak pasti, itu sinyal kuat kalau dia redflag.
- Perhatikan apakah perilakunya sejalan dengan kata-kata manisnya.
- Jangan takut untuk mengakhiri hubungan jika tidak ada kejalasan.
- Ingat, kamu bukan opsi cadangan. Kamu layak dipilih dengan jelas.
Seagulling jadi salah satu contoh bagaimana budaya pacaran sekarang yang serba instan bisa memunculkan pola hubungan yang kurang sehat. Di balik istilah yang terdengar unik, ada dampak emosional yang nyata dan nggak bisa dianggap sepele.
Jadi kalau kamu lagi ada di situasi kayak gini, mungkin ini saatnya tanya ke diri sendiri apakah masih mau bertahan, atau mulai memilih yang lebih pasti?


