Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan kompak tak berdaya pada penutupan perdagangan Rabu, 24 Juni 2026. Rupiah melemah 0,52 persen ke level Rp17.952 per dolar Amerika Serikat (AS), dan IHSG anjlok 3,56 persen ke level 5.883.
Nilai transaksi IHSG tercatat sebesar Rp15,1 triliun dengan melibatkan 26,9 miliar saham dalam 2 juta kali transaksi. Sebanyak 98 saham naik, 104 tidak bergerak, dan 611 turun.
Dilansir dari Stockbit, sejumlah saham yang mengalami penurunan terdalam alias top loser yakni:
- PT Citatah Tbk (CTTH) melemah 15 persen ke Rp119
- PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) naik 14,86 persen ke Rp4.640
- PT Multitrend Indo Tbk (BABY) anjlok 14,85 persen ke Rp172
Sedangkan saham paling banyak dijual asing atau net foreign diantaranya:
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebanyak Rp386,58 miliar,
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar Rp95,45 miliar, dan
- PT Olympus Strategic Indonesia Tbk (NATO) sebanyak Rp72,86 miliar.
Alasan Rupiah Keok


Sementara itu, Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengungkapkan pelemahan rupiah ini sejalan dengan menguatnya dolar AS karena Washington memberikan Teheran keringanan sanksi selama 60 hari.
Washington memberikan Teheran keringanan sanksi selama 60 hari setelah pembicaraan perdamaian awal, yang memungkinkan mereka untuk menjual minyak, dan seiring meredanya permusuhan di Lebanon,”
kata Ibrahim dalam analisis hariannya.
Kemudian pasar saat ini menilai probabilitas the Fed akan melakukan pengetatan kebijakan dalam beberapa bulan mendatang. Pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga sekitar 70 persen di September, dan sepenuhnya naik pada Desember.
Fokus pasar pekan ini adalah indikator inflasi pilihan the Fed, yaitu Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (PCE) yang akan dirilis besok hari Kamis,”
imbuhnya.
Adapun untuk perdagangan besok, Ibrahim memproyeksikan mata uang rupiah fluktuatif. Namun, akan ditutup melemah direntang Rp17.950 hingga Rp18.020.
























