Harga minyak saat ini seperti menghapus kenaikan yang terjadi selama masa perang Amerika Serikat (AS)-Iran pada perdagangan Kamis, 25 Juni 2026. Turunnya harga minyak sejalan dengan investor memperkirakan pasokan minyak mentah global akan membaik usai jalur Selat Hormuz kembali dibuka.
Dengan dibukanya jalur vital itu, kapal-kapal tanker yang terjebak di Teluk Persia selama berbulan-bulan mulai meninggalkan Selat Hormuz.
Dilansir dari CNBC, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Agustus turun 1,66 persen menjadi sekitar US$69 per barel. Adapun Brent turun 1,79 persen menjadi US$73 per barel.
Kedua harga minyak mentah itu kembali berada di kisaran sebelum meletusnya perang Amerika Serikat (AS)-Israel vs Iran di Timur Tengah pada 28 Februari 2026.
Kapal Melintasi Selat Hormuz
Menurut perusahaan pelacak perdagangan Kpler, lebih dari 20 kapal tanker minyak yang mengangkut sekitar 35 juta barel minyak mentah telah melintasi Selat Hormuz. Kondisi itu bisa terjadi sejak AS dan Iran mencapai kesepakatan untuk membuka kembali rute pelayaran penting tersebut.
Kapal-kapal dari luar Iran itu sebelumnya tertahan di Teluk Persia selama lebih dari tiga bulan. Banyak kapal yang yang tertahan karena Teheran secara efektif menutup Selat Hormuz pada awal konflik.
Sebagian besar kapal diperkirakan akan tiba di tujuan mereka di Asia pada awal Agustus 2026.
Dalam laporannya, Citi Bank menyampaikan masa terburuk mungkin telah berlalu bagi strategi curve-carry komoditas yang sempat terpukul selama konflik AS-Iran. Sebab, lonjakan harga minyak pada periode pendek merugikan para pelaku pasar yang menjual kontrak berjangka dekat dan membeli kontrak dengan jatuh tempo lebih panjang.
Citi Bank menyatakan de-eskalasi besar-besaran kini menjadi skenario dasar mereka. Diperkirakan harga Brent akan turun ke kisaran US$60 hingga US$65 per barel dalam enam hingga 12 bulan ke depan seiring normalnya arus pasokan di Selat Hormuz.
Citi Bank juga menambahkan bahwa setiap reli harga minyak sementara selama musim panas sebaiknya tidak dianggap berkelanjutan.
Namun, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan perjalanan yang aman melalui Selat Hormuz hanya akan diizinkan melalui rute yang ditentukan oleh Teheran.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa risiko terhadap jalur pelayaran penting itu masih tetap ada. IRGC juga menegaskan kapal yang melanggar instruksi transit akan menghadapi tindakan dari pihak Iran.


























