Harga minyak mentah Brent berjangka berbalik turun pada Senin. Penurunan terjadi setelah pihak mediator Qatar dan Pakistan, menyatakan bahwa pejabat Amerika Serikat (AS) dan Iran telah menyepakati peta jalan yang bertujuan mencapai kesepakatan akhir dalam waktu 60 hari.
Dalam pernyataan bersama setelah pembicaraan di resor Bürgenstock, Swiss, kedua mediator mengatakan bahwa para pihak akan melanjutkan negosiasi teknis sepanjang pekan ini dan membentuk komite tingkat tinggi untuk mengawasi proses mediasi.
Melansir CNBC pada Senin, 22 Juni 2026, harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman Agustus naik pada awal perdagangan di Asia, kemudian turun 0,38 persen menjadi US$80,26 per barel. Sedangkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak pengiriman Juli diperdagangkan sekitar 1 persen lebih tinggi di level US$77,52 per barel.
Ancaman Trump


Adapun perkembangan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan kembali melakukan aksi militer baru terhadap Iran, yang memicu kekhawatiran mengenai ketahanan perjanjian damai sementara yang rapuh yang dicapai pekan lalu.
Trump menyampaikan pernyataan tersebut pada Minggu, saat Wakil Presidennya JD Vance bertemu dengan pejabat Iran di Swiss. Pertemuan tersebut dibayangi oleh pengumuman Teheran bahwa mereka kembali menutup Selat Hormuz.
Namun, pembicaraan di resor Bürgenstock, Swiss menandai negosiasi pertama sejak Washington dan Teheran menandatangani nota kesepahaman pada pekan lalu untuk mengakhiri konflik, dan memperpanjang gencatan senjata yang masih rapuh setidaknya selama 60 hari.
Kesepakatan ini menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian permusuhan di seluruh kawasan, termasuk di Lebanon. Namun, Iran menuduh Washington gagal memastikan terwujudnya gencatan senjata di Lebanon dan menyatakan bahwa pembicaraan terbaru hanya akan berfokus pada implementasi nota kesepahaman tersebut, bukan isu yang lebih luas seperti program nuklirnya.
Pasokan Minyak Berangsur Pulih


Menurut David Roche dari Quantum Strategy, pasokan minyak di Timur Tengah saat ini mendekati level sebelum perang jika memperhitungkan minyak mentah yang tersimpan di fasilitas penyimpanan dan kapal tanker.
Namun dalam laporannya pada Senin, ia mengingatkan bahwa melimpahnya pasokan mencerminkan pelepasan persediaan daripada pemulihan produksi. Sehingga, pasar tetap rentan ketika stok mulai menipis.
Meski harga minyak sempat menguat akibat ketegangan yang kembali memanas di Timur Tengah, Goldman Sachs mencatat bahwa guncangan pasokan yang berkepanjangan pada akhirnya dapat mempercepat peralihan ke kendaraan listrik. Kondisi ini berpotensi mengurangi permintaan minyak mentah dalam jangka panjang dan menambah risiko penurunan harga minyak.

























