Pengamat politik Fernando Emas menilai pertemuan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Bung Karno (BEM UBK) harus dilihat secara objektif. Menurut dia, pertemuan itu mesti diukur dari tindak lanjut yang dihasilkan, bukan sekadar seremoni politik.
Dikatakan Fernando Emas, pertemuan itu bisa menjadi langkah positif apabila benar-benar ditujukan untuk menyerap aspirasi mahasiswa. Namun, ia mengingatkan publik perlu mencermati apakah ada agenda politik lain di balik momentum tersebut.
Kalau hanya sekedar menerima tetapi tidak ada tindak lanjutnya, ya bisa dikatakan ini hanya sekedar untuk kepentingan politik,”
kata Fernando Emas kepada Owrite, Kamis, 25 Juni 2026.
Fernando mengakui bahwa sebagai Wakil Presiden, Gibran memiliki kewajiban mendengar suara masyarakat. Hal itu termasuk kelompok mahasiswa yang selama ini aktif menyampaikan kritik terhadap pemerintah.
Walaupun memang Mas Gibran selaku wapres sudah melakukan pertemuan dengan mahasiswa ataupun menyerap aspirasi mahasiswa terkait dengan demo yang dilakukan beberapa waktu lalu,”
ujarnya.
Menurutnya, publik berhak mempertanyakan tujuan utama dari pertemuan tersebut, terlebih setelah muncul polemik terkait dugaan pemberian uang kepada mahasiswa yang ikut dalam agenda tersebut.
Ini kan kalau memang murni sebagai sikap seorang wapres ingin mendengarkan aspirasi, ya kita patut bersyukur. Tetapi jangan sampai ada motif-motif politik yang lain,”
tegasnya.
Dikatakan Fernando, substansi pertemuan jauh lebih penting dibandingkan pencitraan yang muncul setelahnya. Ia mempertanyakan apakah agenda tersebut benar-benar bertujuan menyerap aspirasi atau hanya menjadi instrumen politik untuk membangun citra tertentu.
Jadi apa sih yang mendasar Mas Gibran selaku wapres menerima BEM dari UBK di beberapa waktu yang lalu? Apakah memang ini murni untuk kepentingan menyerap aspirasi dari mahasiswa?,”
jelasnya.
Lebih jauh Fernando, jawaban atas pertanyaan tersebut akan terlihat dari langkah konkret pemerintah setelah pertemuan berlangsung.
Sebaliknya, jika tidak ada perkembangan apa pun setelah dialog dilakukan, maka sulit menghindari penilaian bahwa pertemuan tersebut hanya menjadi panggung politik sesaat.
Tetapi jika mahasiswa diterima, didengarkan aspirasinya, kemudian ada perubahan-perubahan dan ada tindak lanjut dari aspirasi yang diberikan, ya kita patut apresiasi,”
ujarnya.
Untuk diketahui, elemen mahasiswa di antaranya BEM UBK sempat audiensi dengan Wapres Gibran Rakabuming Raka pada Senin, 15 Juni 2026. Muncul dugaan usai pertemuan itu, pengurus BEM UBK menerima uang yang jadi sorotan luas dan menuai cibiran. Diduga uang itu diberikan agar mahasiswa bersedia tak demonstrasi di dekat Istana Wapres.






















