Aktivis senior yang juga mantan Sekretaris Kementerian BUMN Muhammad Said Didu, mengaitkan sejumlah peristiwa yang terjadi baru-baru ini dengan dugaan adanya upaya membangun persepsi bahwa Presiden Prabowo Subianto tidak dekat dengan mahasiswa. Sementara, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka justru terkesan tampil lebih terbuka.
Melalui akun media sosial X pribadinya, Said Didu menyebut terdapat rangkaian kejadian yang menurutnya patut dicermati.
Pembusukan Geng SOP kepada Presiden Prabowo sedang berjalan,”
tulis Said Didu yang dikutip, Rabu, 24 Juni 2026.
Ia menyoroti pengamanan aparat saat aksi mahasiswa di kawasan Bundaran HI yang menurutnya berlangsung dalam skala besar.
Tandanya saat demo mahasiswa di HI, diturunkan lebih 4.000 polisi menjaga dan menggiring mahasiswa agar demo terganggu,”
ucapnya.
Dalam unggahan yang sama, Said Didu juga menyinggung polemik terkait pertemuan mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK) dengan Wakil Presiden Gibran yang belakangan menjadi perhatian publik.
Ia mengutip pengakuan yang beredar dari salah satu mahasiswa terkait adanya janji pemberian dana setelah pertemuan tersebut.
Saat yang sama ada polisi yang ‘mengantar’ mahasiswa lain (mahasiswa UBK) untuk diterima Wapres dan sesuai pengakuan mahasiswa tersebut dijanjikan uang Rp300 juta dan sudah diberikan Rp20 juta,”
tulisnya.
Said Didu juga menyoroti pertemuan antara Ikatan Alumni BEM Nusantara dengan Jokowi di Solo dan Gibran di Jakarta. Menurutnya, rangkaian pertemuan tersebut menimbulkan pertanyaan politik tersendiri.
Setelah itu, Gibran menerima Ikatan Alumni BEM Nusantara yang sebelumnya diterima oleh Jokowi di Solo,”
bebernya.
Mantan Sesmen BUMN itu kemudian melontarkan pertanyaan bernada sindiran terkait nilai politik dari pertemuan-pertemuan tersebut.
Kalau mahasiswa UBK dibayar Rp300 juta sesuai pengakuan mahasiswa UBK, kira-kira alumni BEM Nusantara pantasnya dapat berapa karena bertemu Jokowi di Solo dan ketemu Gibran di Jakarta?,”
lanjutnya.
Ditambahkannya, rangkaian peristiwa tersebut dapat dibaca sebagai upaya membangun persepsi tertentu di ruang publik mengenai hubungan pemerintah dengan mahasiswa.
Artinya, Geng SOP ingin memberikan sinyal bahwa Presiden Prabowo tidak bisa menerima masukan dari mahasiswa tapi Gibran bisa. Ini pembusukan!,”
tegasnya.






















