Negosiasi antara Israel dan Lebanon di Washington menemui jalan buntu. Israel ogah menarik pasukannya dari Lebanon selatan.
Dalam negosiasi, Israel menuntut adanya jaminan kelompok Hizbullah Kembali ke Lebanon selatan.
Menurut sumber yang dikutip surat kabar Israel Maariv, putaran kelima pembicaraan yang dimediasi AS sejauh ini gagal menghasilkan kesepakatan. Pasukan Israel bakal bertahan di Lebanon.
Melansir dari Middle East Monitor, Kamis, 25 Juni 2026, Israel juga bersikeras untuk tetap berada di Lebanon selatan. Zionis ingin Hizbullah diusir dari Lebanon Selatan dan dicegah untuk membangun kembali infrastruktur militernya.
Perselisihan dalam negosiasi itu juga muncul selama putaran kelima pertemuan antara delegasi Israel dan Lebanon di Washington.
Sumber-sumber yang mengetahui perundingan tersebut mengatakan bahwa Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat (AS) dan kepala delegasi Israel Yechiel Leiter keberatan dengan mekanisme yang diusulkan terkait masalah Lebanon. Dengan demikian, mendorong para pejabat AS untuk beberapa kali turun tangan dalam upaya meredakan ketegangan.
Sumber-sumber itu juga menambahkan bahwa pihak AS berpendapat dengan melibatkan Iran dalam beberapa kesepakatan terkait Lebanon bisa berfungsi sebagai cara untuk menekan Hizbullah.
Cara itu untuk memastikan implementasi kesepahaman yang bertujuan untuk menjaga kedaulatan dan persatuan wilayah Lebanon.
Putaran negosiasi saat ini yang dimulai pada 23 – 26 Juni 2026 berfokus pada proposal untuk membentuk ‘zona percontohan’. Salah satunya tentara Lebanon akan memikul tanggung jawab keamanan penuh untuk menunjukkan kemampuannya mencegah kembalinya aktivitas Hizbullah.





















