Kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan terhadap perempuan berinisial YTR (29) di Kabupaten Bandung kembali menyoroti bahaya hubungan yang tidak sehat atau abusive relationship.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa kekerasan dalam hubungan sering kali tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan diawali dengan berbagai tanda yang kerap diabaikan atau dianggap sebagai bentuk kasih sayang.
Psikolog Meity Arianty mengatakan dari persprektif psikologi, pelaku kekerasan ekstrem sering kali tidak langsung menunjukkan perilaku kasar di awal hubungan. Justru banyak yang tampak sangat perhatian, protektif, atau penuh kasih pada tahap awal.
Namun, Meity menjelaskan ada beberapa tanda peringatan (red flags) yang perlu diwaspadai, seperti keinginan mengontrol kehidupan pasangan secara berlebihan, mudah cemburu tanpa alasan yang jelas, membatasi pergaulan dengan keluarga atau teman, selalu ingin mengetahui keberadaan pasangan setiap saat, sering merendahkan atau mengkritik pasangan, sulit menerima penolakan, mudah marah ketika keinginannya tidak dituruti, serta cenderung menyalahkan orang lain atas kesalahannya sendiri.
Tanda lain yang juga penting diketahui adalah ketika pelaku mulai melakukan intimidasi, ancaman, merusak barang, mendorong, mencubit, atau bentuk kekerasan ringan yang kemudian semakin meningkat intensitasnya perlu di waspadai,”
jelasnya.
Meity mengingatkan masyarakat perlu memahami bahwa kekerasan ekstrem biasanya tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan berkembang melalui pola kontrol, manipulasi, dan kekerasan yang semakin berat dari waktu ke waktu.
Oleh karena itu, mengenali tanda-tanda awal dan tidak mengabaikan perilaku posesif atau kontrol yang berlebihan merupakan langkah penting dalam mencegah terjadinya kekerasan yang lebih serius,”
tambahnya.
Jangan Abakan Tanda-Tanda Pasangan Abusive
Ketika telah mengenali tanda-tanda tersebut, kamu jangan mengabaikan tanda-tanda tersebut dan jangan menormalisasi cinta harus sabar dan menerima kekurangan pasangan padahal itu merugikan.
Selain itu, jangan abaikan perilaku yang membuat kamu merasa takut, tertekan, atau kehilangan kebebasan, jangan menormalisasikan itu.
“Perhatikan apakah terdapat pola kontrol yang berlebihan, intimidasi, ancaman, penghinaan, isolasi dari keluarga atau teman, atau bentuk kekerasan fisik maupun emosional,” jelasnya.
Meity juga mengarakan sebaiknya pertahankan hubungan yang baik dengan keluarga dan lingkungan pendukung, simpan bukti jika terjadi kekerasan atau ancaman, dan jangan ragu untuk mencari perspektif dari orang yang dipercaya atau profesional seperti psikolog.
Jika perilaku pasangan mulai mengarah pada kekerasan atau menimbulkan rasa takut terhadap keselamatan diri, prioritaskan keamanan dengan membuat rencana perlindungan diri dan segera mencari bantuan dari pihak yang berwenang atau lembaga pendampingan korban.
Yang perlu diingat, hubungan yang sehat dibangun atas dasar rasa aman, saling menghormati, dan kebebasan, bukan ketakutan, kontrol, atau ancaman. Oleh karena itu, semakin dini tanda-tanda perilaku abusif dikenali, semakin besar peluang untuk mencegah terjadinya kekerasan yang lebih berat di kemudian hari,”
tandasnya.




















