Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengakui ada penyakit peserta yang tidak terdeteksi saat proses seleksi kesehatan Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI).
Pengakuan itu disampaikan setelah lima peserta meninggal dunia saat mengikuti latihan bela negara dan manajerial.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertahanan (BPSDM) Kemhan Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia mengatakan, seluruh peserta memang telah menjalani pemeriksaan kesehatan sesuai prosedur.
Namun, dalam praktiknya, ada penyakit tertentu yang luput terdeteksi.
Dari proses awal sebelumnya sudah dilaksanakan proses oleh Pansel Seleksi Nasional. Namun di kenyataannya ada memang penyakit-penyakit yang tidak terdeteksi,”
kata Ketut dalam konferensi pers, Sabtu, 27 Juni 2026.
Tim medis Kemhan menegaskan hasil pemeriksaan awal tidak menemukan indikasi TBC pada peserta yang lolos seleksi.
Pada saat pemeriksaan rontgen itu tidak terdapat TBC,”
ujar perwakilan tim medis.
Infeksi Paru-paru Akibat Virus
Bahkan, tim medis menyebut hasil diskusi dengan pihak rumah sakit mengarah pada dugaan bahwa peserta tersebut mengalami pneumonia atau infeksi paru-paru akibat virus, bukan tuberkulosis.
Tuberkulosis adalah penyakit yang tidak lulus atau TMS. Sedangkan yang kemarin kita periksa itu tidak ada TBC yang lulus,”
katanya.
Pasca-kematian Novia, Kemhan mengaku langsung melakukan pelacakan terhadap peserta lain yang sempat berinteraksi dengan korban.
Sejumlah peserta yang terindikasi terpapar virus juga telah dipisahkan dan menjalani pemantauan kesehatan.
Dilaksanakan tracing kepada seluruhnya pada lingkungan, termasuk kepada penyelenggara sendiri. Kemudian dilaksanakan klasterisasi dan tindakan kedokteran lebih lanjut,”
kata Ketut.
Ia mengatakan, Kementerian Kesehatan juga telah turun langsung untuk melakukan penelusuran dan pemeriksaan lanjutan terhadap kemungkinan penyebaran penyakit yang sebelumnya tidak terdeteksi.
Terkait banyaknya pertanyaan terhadap materi pelatihan, Kemhan membantah bahwa peserta menjalani aktivitas fisik berat.
Menurut penyelenggara, kegiatan yang dilakukan hanya berupa senam, jalan kaki, peraturan baris-berbaris (PBB), dan penanaman disiplin.
Belum ada kegiatan yang memang menentukan kegiatan fisik berat,”
kata perwakilan penyelenggara.
Meski demikian, rentetan kematian lima peserta dalam waktu kurang dari dua pekan memunculkan pertanyaan baru mengenai efektivitas skrining kesehatan dan sistem mitigasi risiko dalam program yang melibatkan ribuan peserta sipil tersebut.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban, Kemhan menyatakan telah memberikan santunan kepada keluarga korban.
“Kita memberikan santunan, ya setiap orang itu Rp50 juta,”
ujar perwakilan penyelenggara.
Kemhan juga memastikan evaluasi terhadap sistem kesehatan dan penyelenggaraan program akan terus dilakukan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

















