Belakangan ini, lagi berseliweran di medsos soal istilah “my mine gueh”. Mulai dari TikTok, Instagram, sampai X, banyak warganet memakai istilah ini sebagai caption, komentar, hingga bahan bercandaan.
Kalau didengar sekilas istilah ini terdengar seperti istilah bahasa Inggris, tapi kalau dipikir-pikir lagi, frasa tersebut justru terdengar “nggak nyambung”. Nah, tapi disitulah letak lucunya.
Popularitas “my mine gueh” juga makin melejit setelah Naykilla merilis single terbaru berjudul “MMG (My Mine Gueh)” pada 13 Juni lalu.
Lagu dengan nuansa ceria dan lirik yang catchy itu sukses membuat istilah tersebut semakin sering dipakai di media sosial. Nggak sedikit juga yang penasaran, sebenarnya apa sih arti “my mine gueh”?
Apa Arti “My Mine Gueh”?
Secara sederhana, “my mine gueh” berarti “milikku”, “punyaku”, atau dalam konteks tertentu bisa dimaknai sebagai “dia punya gue” yang diucapkan dengan nada bercanda.
Frasa ini terdiri dari tiga kata yang sebenarnya punya arti hampir sama.
- My = milikku.
- Mine = milikku.
- Gueh = gue atau saya dalam bahasa gaul Indonesia.
Kalau digabung, artinya jadi seperti “milikku, milikku, gue”. Memang terdengar aneh, tapi justru karena pengulangan makna itulah frasa ini terasa absurd dan mengundang tawa.
Di media sosial, “my mine gueh” biasanya dipakai buat bercanda saat mengklaim pasangan, gebetan, sahabat, bahkan idol favorit. Misalnya, saat melihat foto artis favorit, ada saja netizen yang berkomentar, “My mine gueh, jangan diambil ya.”
Kenapa Bisa Jadi Slang Gen Z?
Kalau diperhatikan, “my mine gueh” punya pola yang mirip dengan istilah viral lain seperti “finally akhirnya”, “happy senang”, “best terbaik”, atau “cancel batal”.
Semuanya mengulang makna dalam dua bahasa sekaligus. Secara tata bahasa memang tidak tepat, tetapi justru sengaja dibuat seperti itu agar terdengar lucu.
Dalam kajian linguistik, fenomena ini dikenal sebagai code-mixing atau campur kode, yaitu mencampurkan dua bahasa dalam satu tuturan.
Bedanya, Gen Z sengaja membuatnya terdengar “salah” atau berlebihan demi menciptakan efek humor yang hanya dipahami sesama pengguna internet alias inside joke.
Ada sebuah penelitian yang menjelaskan penggunaan campur kode di media digital menjadi salah satu cara generasi muda mengekspresikan identitas bilingual mereka.
Jadi, bukan karena tidak bisa bahasa Inggris, melainkan karena gaya komunikasi seperti ini terasa lebih relate dengan keseharian mereka di internet.
Apakah Sama dengan Bahasa Jaksel
Meski sama-sama mencampurkan bahasa Indonesia dan Inggris, “my mine gueh” berbeda dengan fenomena Bahasa Jaksel.
Bahasa Jaksel biasanya memakai bahasa Inggris untuk memberi kesan modern, profesional, atau kasual. Sementara itu, “my mine gueh” justru sengaja dibuat ngawur supaya terdengar kocak.
Makanya, istilah ini lebih dekat dengan budaya meme dan humor internet dibandingkan percakapan formal.
Sebenarnya “My Mine” Itu Salah, Lho
Walaupun viral, frasa “my mine” bukanlah bentuk yang benar dalam bahasa Inggris.
Dilansir dari EF English Centers Indonesia, kata my merupakan possessive adjective yang harus diikuti kata benda, misalnya my phone, my bag, atau my friend.
Sementara itu, mine adalah possessive pronoun yang berdiri sendiri, misalnya This phone is mine atau That book is mine.
Karena itu, penggunaan “my mine” dalam satu frasa sebenarnya tidak sesuai dengan kaidah bahasa Inggris. Namun, di media sosial kesalahan tersebut justru dijadikan bahan candaan dan akhirnya berubah menjadi bahasa slang.
Munculnya istilah seperti “my mine gueh” menunjukkan kalau bahasa terus berkembang mengikuti perkembangan zaman. Tren di TikTok, meme, hingga lagu-lagu viral membuat memunculkan istilah baru lahir dan cepat menyebar.
Dilansir dari Routledge, komunikasi di internet membuat bahasa berkembang jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Pengguna media sosial terus menciptakan ungkapan, singkatan, hingga permainan kata baru yang akhirnya viral.
Jadi, nggak heran kalau istilah yang awalnya terdengar aneh seperti “my mine gueh” kini justru menjadi salah satu slang favorit Gen Z.
Meski begitu, penting diingat bahwa istilah ini hanya berlaku sebagai bahasa gaul di media sosial, bukan sebagai contoh penggunaan bahasa Inggris yang benar. Jadi, boleh dipakai buat seru-seruan di internet, tapi jangan sampai kebawa saat mengerjakan tugas bahasa Inggris, ya!

























