Pernah merasa habis scroll TikTok cuma ketawa-ketawa, tapi habis buka Instagram malah jadi overthinking sama hidup sendiri?
Kalau iya, kamu nggak sendirian. Meski sama-sama media sosial, Instagram dan TikTok ternyata bisa memberi pengalaman psikologis yang berbeda, terutama soal social comparison atau kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
Istilah social comparison pertama kali diperkenalkan oleh Leon Festinger dalam teori A Theory of Social Comparison Processes (1954).
Menurutnya, manusia secara alami cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain untuk menilai kemampuan, pencapaian, atau kehidupan yang dimilikinya.
Lalu, kenapa Instagram sering terasa lebih memicu perasaan itu?
Salah satu alasannya adalah karakter kontennya. Instagram identik dengan foto yang sudah dipilih, diedit, dan dikurasi agar terlihat menarik.
Feed seseorang sering kali hanya menampilkan momen terbaik, mulai dari liburan, pencapaian karier, hingga gaya hidup.
Tanpa sadar, kita jadi membandingkan “behind the scenes” kehidupan sendiri dengan “highlight” kehidupan orang lain.
Hal ini didukung oleh penelitian Chia-chen Yang dalam artikel Instagram Use, Social Comparison, and Negative Affect Among College Students (2016).
Penelitian tersebut menemukan bahwa semakin sering seseorang melakukan perbandingan sosial saat menggunakan Instagram, semakin besar kemungkinan muncul perasaan tidak puas terhadap diri sendiri dan emosi negatif.
Sementara itu, TikTok cenderung menawarkan pengalaman yang berbeda. Algoritmanya lebih berfokus pada minat pengguna dibanding siapa yang diikuti.
Kontennya juga lebih beragam, mulai dari edukasi, humor, cerita sehari-hari, hingga tren yang terasa lebih spontan. Karena itu, banyak pengguna merasa TikTok lebih menghibur daripada memicu perbandingan sosial, meski bukan berarti platform ini sepenuhnya bebas dari efek tersebut.
Namun, bukan berarti Instagram selalu buruk atau TikTok selalu lebih baik. Semua kembali pada cara kita menggunakan media sosial.
Jika akun yang kita ikuti membuat kita terus merasa kurang, mungkin sudah waktunya mengevaluasi kembali siapa saja yang muncul di linimasa kita.
Pada akhirnya, media sosial hanyalah alat. Yang sering membuat kita merasa tertinggal bukan aplikasinya, melainkan kebiasaan membandingkan perjalanan hidup sendiri dengan versi terbaik kehidupan orang lain.
Jadi, setelah membaca ini, coba perhatikan lagi. Kamu lebih sering merasa terinspirasi atau justru merasa kurang setelah membuka Instagram dan TikTok?
Kalau kamu suka artikel seputar psikologi, media sosial, dan fenomena Gen Z yang dibahas berdasarkan riset, jangan lupa share artikel ini dan follow Instagram @sefruitmedia untuk konten menarik lainnya!











