Merasa sudah ngurangin jajan, jarang nongkrong, selalu cari promo, tapi saldo tabungan tetap segitu-segitu aja?
Kalau kamu pernah merasa seperti ini, tenang, kamu enggak sendirian. Banyak orang mengira susah nabung berarti pengelolaan uangnya buruk. Padahal, kenyataannya enggak sesederhana itu.
Dalam buku The Psychology of Money (2020), Morgan Housel menjelaskan bahwa keputusan finansial seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh logika, tetapi juga kondisi hidup, pengalaman, dan situasi ekonomi yang sedang dihadapi. Artinya, kemampuan menabung bukan cuma soal disiplin, tetapi juga soal ruang finansial yang dimiliki.
Misalnya, kalau sebagian besar gaji sudah habis untuk kebutuhan pokok seperti sewa tempat tinggal, transportasi, makan, dan tagihan, sisa uang untuk ditabung memang jadi sangat terbatas. Hidup hemat memang membantu, tetapi bukan berarti otomatis membuat tabungan cepat bertambah.
Fenomena ini juga terlihat dalam penelitian Anuj K. Shah, Sendhil Mullainathan, dan Eldar Shafir dalam buku Scarcity: Why Having Too Little Means So Much (2013). Mereka menjelaskan bahwa ketika seseorang terus-menerus berada dalam kondisi sumber daya yang terbatas, baik uang maupun waktu, pikiran akan lebih fokus pada kebutuhan jangka pendek dibanding perencanaan jangka panjang. Akibatnya, menabung menjadi terasa semakin sulit, bukan karena kurang niat, tetapi karena kondisi yang serba terbatas.
Selain itu, biaya hidup yang terus meningkat juga ikut berpengaruh. Kenaikan harga kebutuhan sehari-hari sering kali lebih cepat dibanding kenaikan pendapatan. Akibatnya, meski gaya hidup tidak berubah, pengeluaran tetap bertambah dari waktu ke waktu.
Bukan berarti menabung jadi mustahil. Kalau kondisi keuangan memang sedang sempit, enggak ada salahnya memulai dari nominal kecil yang realistis. Menabung Rp10.000 atau Rp20.000 secara konsisten tetap lebih baik daripada memaksakan target besar yang justru membuat stres.
Yang juga penting, jangan terlalu cepat membandingkan tabunganmu dengan orang lain. Setiap orang punya kondisi ekonomi, tanggungan, dan titik awal yang berbeda. Fokus pada progres diri sendiri jauh lebih sehat daripada mengejar standar yang belum tentu sesuai dengan situasimu.
Jadi, kalau tabunganmu belum banyak meski sudah hidup hemat, belum tentu kamu gagal mengatur uang. Bisa jadi, kamu memang sedang menghadapi kondisi ekonomi yang membuat ruang untuk menabung menjadi lebih sempit. Yang terpenting adalah terus membangun kebiasaan finansial yang sehat sesuai kemampuan.
Kalau kamu suka artikel yang membahas psikologi, finansial, dan fenomena sehari-hari dengan cara yang mudah dipahami, share artikel ini dan jangan lupa follow Instagram @sefruitmedia untuk konten menarik lainnya!










