Kalau belakangan kamu sering melihat orang memakai celana baggy, baby tee, jaket oversized, atau sepatu bergaya retro, kamu mungkin sadar satu hal: tren fashion lama sedang kembali.
Menariknya, outfit yang dulu sempat dianggap “jadul” kini justru menjadi pilihan banyak anak muda, terutama Gen Z. Lalu, kenapa tren fashion bisa berputar seperti ini?
Dalam dunia fashion, ada istilah trend cycle, yaitu siklus di mana tren lama akan kembali populer setelah puluhan tahun.
Menurut Georg Simmel dalam esainya Fashion (1904), fashion selalu bergerak melalui proses perubahan. Ketika sebuah gaya sudah terlalu umum dipakai, orang akan mencari sesuatu yang terasa baru.
Uniknya, “hal baru” itu sering kali justru berasal dari tren masa lalu.
Fenomena ini semakin terlihat dengan populernya gaya Y2K dan fashion era 1990-an hingga awal 2000-an. Mulai dari cargo pants, denim longgar, tas bahu kecil, hingga aksesori warna-warni kembali memenuhi media sosial dan etalase toko.
Namun, bukan cuma soal nostalgia. Banyak Gen Z bahkan belum lahir saat tren tersebut pertama kali populer, yang mereka cari adalah gaya yang terasa unik, estetik, dan berbeda dari tren sebelumnya.
Dalam buku Consumer Culture and Postmodernism (1997), Mike Featherstone menjelaskan bahwa pakaian bukan sekadar kebutuhan, tetapi juga cara seseorang membentuk identitas dan menunjukkan citra diri.
Karena itu, memilih outfit vintage atau retro sering kali menjadi bentuk ekspresi personal, bukan sekadar mengikuti tren.
Media sosial juga ikut mempercepat kebangkitan fashion lama. Konten bertema Y2K, thrift haul, hingga outfit of the day (OOTD) membuat gaya berpakaian era sebelumnya kembali dikenalkan kepada generasi baru.
Bahkan banyak selebritas, idol K-pop, hingga influencer yang memadukan item vintage dengan gaya modern sehingga terlihat lebih segar.
Selain itu, meningkatnya minat terhadap thrifting dan fashion berkelanjutan juga membuat pakaian lama kembali diminati.
Dalam buku Fashionopolis: The Price of Fast Fashion and the Future of Clothes (2019), Dana Thomas menjelaskan bahwa semakin banyak konsumen yang mulai mempertimbangkan dampak lingkungan dari industri fashion.
Membeli pakaian bekas atau memadukan koleksi lama menjadi salah satu cara untuk mengurangi konsumsi fashion yang berlebihan.
Jadi, jangan heran kalau outfit yang dulu pernah dipakai orang tua atau kakakmu sekarang kembali muncul di media sosial.
Dunia fashion memang selalu berputar, dan apa yang dulu dianggap ketinggalan zaman bisa saja berubah menjadi tren paling dicari beberapa tahun kemudian.
Kalau kamu suka artikel seputar fashion, lifestyle, psikologi, dan tren Gen Z yang dibahas dengan cara yang ringan dan informatif, jangan lupa share artikel ini dan follow Instagram @sefruitmedia untuk konten menarik lainnya!











