Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, kini telah memasuki hari ketujuh, sejak dilaporkan mulai terjadi kebakaran dan meluas pada Selasa, 30 Juni 2026.
Meskipun warga setempat sempat melaporkan adanya kepulan asap yang mulai terlihat sejak Minggu, 28 Juni 2026, titik api utama dan kebakaran yang memicu penanganan darurat secara masif baru berkobar pada tanggal 30 Juni.
Mengutip dari data Pemkab Tanggerang, per 5 Juni 2026 titik api yang sebelumnya mencapai sekitar 70 persen kini berhasil ditekan hingga tersisa sekitar 3,6 persen.
Namun, kepulan asap masih terus terlihat dari beberapa titik area tumpukan sampah yang terbakar, yang jadi tanda proses pemadaman belum bisa dinyatakan selesai.
Berdasarkan keterangan Pekab Tangerang, luas TPA Jatiwaringin mencapai 33 hektar dengan area aktif seluas 27 hektar. Dari luas tersebut, sekitar 15 hektar terdampak kebakaran.
Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid mengatakan penanganan kebakaran ini dilakukan melalui kolaborasi antara Pemkab Tangerang bersama Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Manggala Agni, TNI, Polri, serta para relawan.
KLH: Api Berada di Bawah Gunungan Sampah
Merujuk pada laman Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), kebakaran di TPA Jatiwaringin memiliki karakteristik yang berbeda dengan kebakaran biasa sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk dipadamkan.
Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Diaz Hendropriyono menjelaskan api sebenarnya masih menyala di bagian bawah timbunan sampah meski permukaan terlihat telah padam.
Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti kebakaran lahan gambut. Api dapat terus menyala di dalam timbunan sampah dan sewaktu-waktu muncul kembali ke permukaan.
Selain itu, pembusukan sampah menghasilkan gas metana (CH₄) yang mudah terbakar sehingga meningkatkan risiko munculnya kembali titik api, bahkan berpotensi menimbulkan ledakan apabila tidak ditangani secara tepat.
Di atasnya mungkin sudah terlihat padam, tetapi ketika dilihat di bagian bawahnya masih ada apinya. Kapan saja bisa terus terbakar, ada CH4-nya dan bisa ada potensi ledakan juga,”
kata Diaz Dikutip dari laman KLH.
Karena karakteristik tersebut, KLH menilai penyiraman air dari permukaan saja tidak akan cukup untuk memadamkan api yang berada jauh di dalam timbunan sampah.
Merujuk pada laman Pemkab Tanggerang, berbagai metode telah diterapkan untuk mempercepat proses pemadaman.
Selain penyemprotan air dari darat, pemerintah juga telah mengerahkan helikopter untuk melakukan water bombing.
KLH juga memanfaatkan drone untuk memetakan titik panas sehingga proses pemadaman dapat dilakukan lebih tepat sasaran.
KLH meminta bantuan Manggala Agni dari Kementerian Kehutanan. Tim tersebut memiliki pengalaman menangani kebakaran lahan gambut dengan metode injeksi air hingga ke bagian bawah timbunan sehingga lebih efektif menjangkau bara api yang tidak terlihat dari permukaan.
Selain itu, pemerintah juga merencanakan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna membantu mempercepat proses pemadaman.
KLH telah memasang dua unit mobile monitoring system untuk memantau kualitas udara di sekitar lokasi. Pemantauan meliputi kadar PM2.5, PM10, sulfur dioksida (SO₂), dan nitrogen dioksida (NO₂), yang beberapa di antaranya dilaporkan berada di atas baku mutu akibat kepulan asap kebakaran.
Ratusan Warga Terdampak Asap
Berdasarkan data dari Pemkab Tangerang, dampak kebakaran tidak hanya dirasakan di area TPA, tetapi juga oleh masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi.
Sebanyak 210 warga telah menjalani pemeriksaan kesehatan di dua posko yang didirikan. Dari jumlah tersebut, ditemukan 72 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) ringan. Namun, seluruh pasien telah mendapatkan penanganan di tingkat puskesmas tanpa harus dirujuk ke rumah sakit.
Pemerintah Kabupaten Tangerang juga membuka posko pengungsian di Kantor Desa Tanjakan Mekar dan Perumahan Rajeg Hills.
Wakil Bupati Tangerang Intan Nurul Hikmah bersama anggota DPRD Provinsi Banten, DPRD Kabupaten Tangerang, camat, kapolsek, kepala desa, dan sejumlah perangkat daerah juga meninjau langsung kedua posko tersebut.
Menurut Intan, kunjungan dilakukan untuk memastikan distribusi bantuan berjalan dengan baik sekaligus mendengarkan langsung kondisi masyarakat yang terdampak asap.
Ia menjelaskan jumlah pengungsi sempat mengalami perubahan setiap hari mengikuti kondisi di lapangan.
Pada 30 Juni tercatat 62 jiwa mengungsi, kemudian meningkat hingga mencapai 302 orang pada 4 Juli. Sementara pada 5 Juli jumlah warga yang masih berada di pengungsian menurun menjadi 20 orang.
WALHI: Akar Masalahnya Sistem Open Dumping
Sementara itu, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menilai kebakaran TPA Jatiwaringin bukan sekadar bencana biasa, melainkan akibat dari buruknya sistem pengelolaan sampah yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Menurut WALHI, TPA Jatiwaringin menerima sekitar 1.366 hingga 2.700 ton sampah setiap hari. Besarnya volume sampah tersebut menyebabkan timbunan organik terus membusuk dan menghasilkan gas metana dalam jumlah besar.
Pengkampanye Urban Berkeadilan WALHI Nasional Wahyu Eka Styawan mengatakan praktik open dumping menjadi penyebab utama tingginya risiko kebakaran di TPA.
Selama metana terus diproduksi dalam sistem open dumping dan penumpukan sampah organik bercampur dengan jenis lainnya, kebakaran seperti ini bukan sekadar kemungkinan, melainkan keniscayaan,”
ujarnya seperti dikutip dari laman WALHI.
WALHI juga menilai penyiraman air hanya mampu memadamkan api di permukaan. Sementara itu, sumber panas di bagian bawah gunungan sampah tetap menyala sehingga asap terus muncul selama bara api belum benar-benar padam.
Berupaya Menuntaskan Pemadaman
Menurut laman Pemkab Tangerang, pemerintah telah menerapkan status tanggap darurat selama 14 hari agar seluruh proses penanganan dapat dilakukan secara maksimal.
Tim gabungan juga terus melakukan pemadaman, pemantauan titik panas, pelayanan kesehatan, distribusi bantuan logistik, hingga pengawasan terhadap keselamatan petugas di lapangan.
Meski titik api kini tinggal menyisakan sekitar 3,6 persen, pemerintah mengakui proses penuntasan kebakaran membutuhkan waktu karena karakteristik api yang berada jauh di bawah timbunan sampah.
























