Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Senin, 6 Jul 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Sepak Bola
  • Korupsi
  • DPR
  • Purbaya
  • MBG
  • prabowo
  • Piala Dunia 2026
  • iran
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Nasional / Skandal Amdal Freeport: Memangnya Itu Tanah Negara? Tempat Roh Leluhur Kami Hilang!
Nasional

Skandal Amdal Freeport: Memangnya Itu Tanah Negara? Tempat Roh Leluhur Kami Hilang!

Rika Pangestiowrite-adi-briantika
Last updated: Juli 6, 2026 4:31 pm
By
Rika Pangesti
Rika Pangesti
ByRika Pangesti
Reporter
Rika Pangesti adalah reporter di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu megapolitan dan berita nasional. Berlatar pendidikan Magister Ilmu Komunikasi Politik dari Universitas Paramadina, ia memadukan...
Follow:
Adi Briantika
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Follow:
3 jam lalu
Share
Aktivis lingkungan dan hak masyarakat adat dari Mimika, Adolfina Kuum, dalam RDPU dengan Komisi IV DPR, 6 Juli 2026.
Aktivis lingkungan dan hak masyarakat adat dari Mimika, Adolfina Kuum, dalam RDPU dengan Komisi IV DPR, 6 Juli 2026. (Tangkapan layar tayangan TV Parlemen)
SHARE

Aktivis lingkungan dan hak masyarakat adat, Adolfina Kuum alias Doli, melontarkan kritik terhadap cara pemerintah menangani dampak aktivitas tambang PT Freeport Indonesia di pesisir Mimika. 

Daftar isi Konten
  • Gerus Hidup
  • Ada tapi Tiada

Dia berpendapat negara selama ini lebih fokus menghitung kerugian negara, tetapi mengabaikan kerugian yang dialami masyarakat adat.

“Pada 2017, Kementerian Lingkungan Hidup memiliki data AMDAL yang menyebutkan kerugian yang terjadi hanyalah kerugian negara. Pertanyaan saya, memangnya itu tanah milik negara?”

ucap Doli dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi IV DPR, Senin, 6 Juli 2026. 
Baca juga:
Jeritan Mama-Mama Kamoro di DPR: Ikan Hilang, Mangrove Musnah, Limbah… Perempuan nelayan Suku Kamoro mengeluhkan semakin sulitnya mencari ikan di wilayah pesisir…
Dipanggil DPR TikTok Bantah Isu PHK Massal, Justru Klaim Buka… TikTok-Tokopedia membantah kabar adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang belakangan ramai…
Isu PHK TikTok Menggema, DPR Beberkan Fakta Setelah Panggil Manajemen Ramainya isu pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di TikTok yang beredar di…
  • Jeritan Mama-Mama Kamoro di DPR: Ikan Hilang, Mangrove Musnah, Limbah Freeport Diduga…
  • Dipanggil DPR TikTok Bantah Isu PHK Massal, Justru Klaim Buka 100 Lowongan…
  • Isu PHK TikTok Menggema, DPR Beberkan Fakta Setelah Panggil Manajemen

Cara pandang tersebut mengabaikan fakta bahwa wilayah yang terdampak merupakan tanah adat yang selama ini menjadi ruang hidup masyarakat.

“Di sana ada tanah adat, jadi kerugian yang dialami masyarakat harus dihitung secara adat pula. Jangan hanya disebut kerugian negara,”

kata dia.

Gerus Hidup

Persoalan yang dihadapi warga pesisir Mimika jauh lebih kompleks daripada sekadar kerusakan lingkungan. Sedikitnya ada 6.000 jiwa pada 23 kampung disebut terdampak akibat perubahan kawasan pesisir yang terjadi selama bertahun-tahun.

Ia memaparkan berbagai persoalan yang masih dialami masyarakat, seperti akses transportasi laut semakin sulit, hasil tangkapan ikan menurun, kerusakan perahu akibat pendangkalan, rusaknya pulau-pulau keramat, perubahan kondisi ikan, kematian hutan mangrove dan sungai, krisis air bersih, hingga penyakit kulit yang menyerang warga.

Hal paling memprihatinkan, kata Doli, banyak perempuan nelayan kehilangan sumber penghidupan sehingga terpaksa beralih menjadi buruh kasar.

“Perempuan nelayan terpaksa berubah profesi menjadi buruh kasar karena kehilangan ruang hidup atau ruang kelola mereka,”

ucap Doli.

Bahkan Sungai Yamamai yang selama ini menjadi satu-satunya akses menuju sejumlah kampung kini tidak lagi berfungsi optimal setelah bagian hilirnya direklamasi. Akibatnya masyarakat harus memutar melalui jalur laut yang lebih jauh dan lebih berbahaya.

Ada tapi Tiada

Ia juga menyoroti minimnya tindak lanjut pemerintah, meski berbagai persoalan tersebut telah berulang kali disampaikan. Pemerintah memang telah membangun pos kesehatan di wilayah terdampak, namun pelayanan kesehatan tetap belum memadai.

“Kami pikir sudah ada perhatian dari pemerintah karena pos kesehatan sudah dibangun, tetapi di mana tenaga kesehatannya?”

kata Doli.

Selain itu, Doli menyoroti kerusakan hutan mangrove yang menurutnya tidak bisa hanya dipandang sebagai hilangnya vegetasi. Bagi masyarakat adat pesisir, mangrove memiliki nilai budaya, magis, dan spiritual karena dipercaya sebagai tempat bersemayam roh para leluhur. Sekarang tempat itu hilang.

Doli juga mengkritik lambannya penyelesaian berbagai komitmen yang telah disepakati sejak pertemuan dengan pemerintah pada November 2023. Ada tujuh tuntutan masyarakat, kata dia, namun baru dua yang mulai dijalankan, yakni pembangunan rumah singgah dan rehabilitasi mangrove meski implementasi hingga kini belum optimal.

“Bagaimana mungkin sebuah perusahaan bisa membuang limbah hingga ribuan ton setiap hari dan menyebabkan kerusakan luar biasa, tetapi penanganannya sangat lambat?”

tanya dia.

Menurut Doli, rumah singgah yang dibangun sejatinya hanya merupakan solusi darurat. Fasilitas itu digunakan warga untuk menunggu air pasang sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan perahu kecil karena kondisi laut sering tidak memungkinkan untuk dilintasi.

Terakhir, Doli meminta pemerintah mengubah cara pandang dalam menyelesaikan persoalan di Mimika. Ia menegaskan masyarakat adat tidak hanya membutuhkan program bantuan, tetapi juga pengakuan atas hak dan kerugian yang mereka alami.

“Di sana ada masyarakat adat yang hak dan kerugiannya harus diakui. Hal-hal seperti ini yang tidak diperhatikan,”

tutur dia.
Baca juga:
Aktivis Papua Tagih Janji Pemerintah soal Dampak Tailing Freeport: Baru… Aktivis lingkungan dan hak masyarakat adat dari Mimika, Adolfina Kuum, menagih janji…
Curhat Mama Nelayan Suku Kamoro: Dikepung Limbah Freeport, Ditindas Kapal… Natalia, seorang perempuan nelayan suku Kamoro, mengeluhkan dampak limbah PT Freeport Indonesia…
Freeport Raup Kontribusi Besar, DPR Ingatkan Derita Masyarakat Adat Jangan… Pemerintah RI diminta tak menutup mata terhadap dampak lingkungan dan sosial yang…
  • Aktivis Papua Tagih Janji Pemerintah soal Dampak Tailing Freeport: Baru Dua Program…
  • Curhat Mama Nelayan Suku Kamoro: Dikepung Limbah Freeport, Ditindas Kapal Luar
  • Freeport Raup Kontribusi Besar, DPR Ingatkan Derita Masyarakat Adat Jangan Terus Diabaikan
Tag:DPRDPR Papua TengahEkosistemPapua TengahPesisirPT Freeport Indonesiatambang
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
Rika Pangesti
ByRika Pangesti
Reporter
Follow:
Rika Pangesti adalah reporter di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu megapolitan dan berita nasional. Berlatar pendidikan Magister Ilmu Komunikasi Politik dari Universitas Paramadina, ia memadukan pemahaman akademis dengan pengalaman lapangan — termasuk meliput untuk tvOnenews.com sejak 2022.
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Trending di OWRITE
Pakar Kritik Langkah Utus Dubes ke Pemakaman Khamenei: Publik Bisa Curiga Pemerintah Memihak AS-Israel
By Natania Longdong
Warga Iran berduka saat mengikuti proses pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei (Foto: WANA).
1
Argentina vs Mesir di Piala Dunia 2026: Magis Firaun Siap Bikin Messiah Menangis?
By Hadi Febriansyah
Messi vs Salah dalam Piala Dunia 2026.
2
KPK Endus Dugaan Aliran Uang ke Pangdam XIX/Tuanku Tambusai, Kasus Abdul Wahid Melebar
By Rahmat Baihaqi
Gubernur Riau Abdul Wahid (tengah), Tenaga Ahli Gubernur Riau Dani M Nursalam (kiri), dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (PUPR PKPP) Provinsi Riau M Arief Setiawan (kanan)
3
Derbi Iberia Piala Dunia 2026: Laga Terakhir Ronaldo atau Panggung Bocah Ajaib Lamine Yamal?
By Hadi Febriansyah
Cristiano Ronaldo vs LAmine Yamal dalam derbi Iberia Piala Dunia 2026.
4
Sudah Sepekan Kebakaran TPA Jatiwaringin Belum Padam, Ini Alasan Asap Masih Terus Mengepul
By Ani Ratnasari
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat (tengah) berbincang dengan Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH Rasio Ridho Sani (kedua kiri) saat meninjau kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kabupaten Tangerang, Banten
5

BERITA LAINNYA

DPR memanggil manajemen TikTok dan Tokopedia.
Nasional

Isu PHK TikTok Menggema, DPR Beberkan Fakta Setelah Panggil Manajemen

Ramainya isu pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di TikTok yang beredar di…

Rika PangestiHardani Triyoga
By
Rika Pangesti
Hardani Triyoga
42 menit lalu
Natalia, perempuan nelayan suku Kamoro, Papua Tengah, saat RDPU dengan Komisi IV DPR, 6 Juli 2026.
Nasional

Jeritan Mama-Mama Kamoro di DPR: Ikan Hilang, Mangrove Musnah, Limbah Freeport Diduga Jadi Penyebab

Perempuan nelayan Suku Kamoro mengeluhkan semakin sulitnya mencari ikan di wilayah pesisir…

Rika PangestiAmin-Suciady-Owrite
By
Rika Pangesti
Amin Suciady
56 menit lalu
Presiden Prabowo Subianto (kanan) menyambut kedatangan Perdana Menteri (PM) Singapura Lawrence Wong (kiri) di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (6/7/2026). (Sumber: Antara Foto/Bayu Pratama S)
Nasional

Prabowo ke PM Singapura: Kalau Ada Salah Paham, Kita Selesaikan Secara Terbuka

Presiden Prabowo Subianto menegaskan, eratnya hubungan Indonesia dan Singapura saat menerima kunjungan…

iren natania longdongAmin-Suciady-Owrite
By
Natania Longdong
Amin Suciady
2 jam lalu
Natalia, perempuan nelayan suku Kamoro, Papua Tengah, saat RDPU dengan Komisi IV DPR, 6 Juli 2026.
Nasional

Curhat Mama Nelayan Suku Kamoro: Dikepung Limbah Freeport, Ditindas Kapal Luar

Natalia, seorang perempuan nelayan suku Kamoro, mengeluhkan dampak limbah PT Freeport Indonesia…

Rika Pangestiowrite-adi-briantika
By
Rika Pangesti
Adi Briantika
2 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up