Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menghadirkan Vaksin Dengue Tetravalen Berbasis mRNA untuk mengurangi kasus penyakit demam berdarah.
Pasalnya menurut data Kemenkes tercatat sekitar 151 ribu kasus dengue dengan 650 kematian setiap tahunnya.
Vaksin mRNA ini memanfaatkan materi genetik (gen preM-E) virus dengue strain asli Indonesia ini merupakan hasil riset bersama Universitas Indonesia (UI), Tsinghua University (Tiongkok), dan PT Etana Biotechnologies Indonesia.
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan momentum ini menjadi tonggak penting bagi kemandirian industri vaksin nasional.
Jika berhasil, produk ini akan menjadi vaksin mRNA pertama di dunia untuk penyakit demam berdarah, sekaligus menjadi antigen ke-6 yang mampu diproduksi Indonesia dari hulu ke hilir.
Momentum ini menjadi tonggak penting bagi kemandirian industri vaksin nasional. Jika berhasil, produk ini akan menjadi vaksin mRNA pertama di dunia untuk penyakit demam berdarah, sekaligus menjadi antigen ke-6 yang mampu diproduksi Indonesia dari hulu ke hilir.
Kalau ini berhasil, ini akan menjadi salah satu vaksin baru yang diproduksi di Indonesia dengan teknologi paling mutakhir. Kita harus berterima kasih kepada para peneliti Indonesia yang sudah mampu setara dengan peneliti dunia,”
ujar Menkes Budi.
Membangun Fasilitas Riset
Menkes Budi menjelaskan, sejak periode 2020-2022 pemerintah bertekad membangun fasilitas riset sendiri. Dari semula hanya ada satu perusahaan vaksin, kini Indonesia memiliki empat perusahaan, yaitu Bio Farma, Biotis, Etana, dan JBio.
Dari 16 jenis antigen yang dibutuhkan untuk program imunisasi rutin nasional, saat ini baru 11 antigen yang sudah mampu diproduksi lokal, dimana terdapat lima antigen yang diproduksi secara mandiri dari hulu mulai riset, pembuatan bibit vaksin, hingga manufaktur.
Sementara enam antigen lainnya masih sebatas proses perakitan (assembly) atau formulasi akhir karena bahan bakunya masih diimpor dari Tiongkok dan India.
Target saya, sebelum tahun 2030, ke-11 antigen sisanya harus bisa kita produksi utuh dari hulu ke hilir,”
tegas Menkes Budi.
Budi menambahkan pemilihan dengue sebagai salah satu prioritas didasarkan pada tingginya angka kejadian kasus di Indonesia.
Kami memprioritaskan pengembangan vaksin baru berdasarkan beban insiden dan angka kematian tertinggi. Ibu-ibu tentu tidak ingin anaknya disuntik terlalu banyak jenis vaksin, jadi kita pilih yang benar-benar prioritas,”
tandas Budi.






















