Epidemiolog dari Universitas Griffith, Australia dr. Dicky Budiman, M.Sc.PH menjelaskan perbedaan antara dehidrasi, heat exhaustion, dan heat stroke yang masih belum banyak orang tahu.
Dicky mengatakan kalau bicara soal dehidrasi itu maka gejalanya haus, mulut kering, urine sedikit, dan tubuh menjadi lemah. Maka itu, ketika seseorang mengalami kondisi ini disarankan untuk minum cairan elektrolit.
Adapun kalau heat exhaustion itu biasanya gejalanya seseorang akan berkeringat banyak, lemas, pusing, mual, denyut cepat. Suhu tubuh biasanya panas tapi kurang dari 40 derajat Celcius.
Nah, ini penanganannya dipindahkan ke tempat sujuk. Buka pakaian berlebih, kompres dingin, berikan cairan oral atau infus seolah perlu,”
kata Dicky kepada Owrite, Selasa, 7 Juli 2026.
Pun, untuk heat stroke biasanya suhu tubuh akan sangat tinggi dengan lebih dari 40 derajat Celcius. Untuk gejala heat stroke antara lain kulitnya panas, penurunan kesadaran, bingung, hingga kejang.
Ini adalah kondisi darurat medis harus hubungi tenaga kesehatan, tenaga medis, karena harus dilakukan pendinginan agresif sebelum tiba di rumah sakit,”
jelasnya.
Menurut Dicky, prinsip penting tentang heat stroke adalah kondisi itu mengancam nyawa dan tidak boleh ditangani hanya dengan istirahat di rumah. Dengan semakin cepat suhu tubuh diturunkan, maka semakin besar peluang hidup pasien.
Dia mengatakan tanda-tanda awal bahaya yang perlu diwaspadai adalah suhu tubuh yang sangat tinggi, kebingungan, bicaranya melantur, dan sulit berjalan. Selain itu, kehilangan orientasi, pingsan, kejang, napasnya cepat, dan detak jantung juga sangat cepat.
Kulitnya kerasa panas sekali. Dan, ada penurunan kesadaran. Nah, yang paling membedakan heat stroke dengan kelelahan biasa adalah adanya gangguan sistem secara pusat,”
tuturnya.
Dicky menyampaikan saat seseorang mulai mengalami kebingungan atau kehilangan kesadaran saat cuaca panas maka itu sudah merupakan gejala ke arah heat stroke.






















