Penyakit kusta masih menjadi ancaman kesehatan di Indonesia karena banyak kasus terlambat terdeteksi akibat stigma yang melekat di masyarakat. Padahal, kusta dapat disembuhkan sepenuhnya jika ditemukan sejak dini dan diobati hingga tuntas.
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa kusta bukanlah penyakit kutukan, melainkan infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Obat untuk menyembuhkan kusta telah tersedia secara gratis di fasilitas pelayanan kesehatan.
“Kusta tidak perlu ditakuti. Begitu pasien mulai menjalani pengobatan, risiko penularannya langsung menurun secara signifikan. Karena itu yang paling penting adalah menemukan kasus sedini mungkin,”
ujar Budi dalam Konferensi Nasional Kusta 2026 bertema Percepatan Eliminasi Kusta: Komitmen Indonesia, dikutip pada Minggu, 12 Juli 2026.
Segera Periksa
Selain pengobatan, Budi menekankan pentingnya menghilangkan stigma yang selama ini menyebabkan banyak penderita enggan memeriksakan diri hingga akhirnya mengalami kecacatan yang sebenarnya dapat dicegah.
Honorary Chair The Nippon Foundation sekaligus WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, Yohei Sasakawa, mengatakan penghapusan stigma harus berjalan beriringan dengan upaya penyembuhan penyakit.
Eliminasi kusta tidak hanya berarti mengobati pasien, tetapi juga menghapus diskriminasi yang masih dialami oleh orang yang pernah menderita kusta dan keluarganya.
Diskriminasi
Pesan tersebut diperkuat oleh kisah penyintas kusta, Syamsul, yang menceritakan pengalaman menghadapi diskriminasi sejak kecil, mulai dari perundungan hingga perlakuan tidak manusiawi akibat minimnya pemahaman masyarakat tentang kusta.
Syamsul berharap penyintas kusta memperoleh kesempatan yang sama dalam pendidikan, pelayanan kesehatan, pekerjaan, serta kehidupan bermasyarakat.
“Kami bukan sekadar penerima bantuan. Kami ingin menjadi bagian dari pembangunan dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya,”
kata dia.
Kementerian Kesehatan mengajak seluruh elemen masyarakat, pemerintah daerah, tokoh agama, dunia pendidikan, media, dan organisasi kemasyarakatan untuk bersama-sama membangun pemahaman yang benar tentang kusta sehingga tidak ada lagi penyintas yang mengalami diskriminasi akibat penyakit yang sebenarnya dapat disembuhkan.






















