Buat kamu yang merasa udah sah jadi agen go green karena modal kantong kertas dan tote bag, kamu perlu gigit jari usai tahu fakta ini.
Video dari akun TikTok @abangsap_ ramai dibahas setelah mengungkap bahwa kantong kertas belum tentu lebih ramah lingkungan dibandingkan kantong plastik. Bahkan, dalam kondisi tertentu, dampaknya justru bisa lebih parah daripada kantong plastik.
Lho, kok bisa?
Jawabannya ada pada konsep Life Cycle Assessment (LCA) atau Penilaian Siklus Hidup. Kamu harus mengubah cara pandang saat melihat suatu barang. jangan cuma lihat bahannya saja, karena kamu juga harus tahu “perjalanan hidup” barang tersebut.
Dalam video, pembuat konten yang memperkenalkan diri sebagai praktisi lingkungan sekaligus dosen di UGM menjelaskan bahwa menilai suatu produk ramah lingkungan enggak cukup hanya bahan.
Perjalanan
Hal yang dihitung adalah seluruh “perjalanan hidup” produk, seperti pengambilan bahan baku, proses produksi, penggunaan energi dan air, distribusi, sampai akhirnya menjadi sampah.
Artinya, sebuah produk yang kelihatannya lebih ramah lingkungan belum tentu benar-benar punya dampak paling kecil bagi bumi.
Selama ini publik menganggap plastik sebagai “musuh lingkungan”. Padahal, menurut pendekatan LCA, persoalan utama bukan semata-mata material plastik, melainkan pengelolaan sampah setelah dipakai.
Plastik memiliki beberapa keunggulan. Bahannya ringan, proses produksinya relatif lebih hemat energi, dan biaya distribusi juga lebih efisien lantaran bobotnya lebih rendah dibandingkan banyak material lain.
Dengan kata lain, kalau dilihat dari sisi produksi, plastik tidak selalu menjadi pilihan dengan dampak lingkungan paling buruk.
Kenapa Lebih Buruk?
Nah, ini yang bikin banyak orang bilang, “mind blown.”
Guna membuat kantong kertas, industri pulp dan kertas membutuhkan air dalam jumlah sangat besar. Proses produksinya juga mengonsumsi energi lebih banyak dan menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lebih tinggi dibandingkan pembuatan kantong plastik dengan fungsi yang sama.
Jadi, mengganti plastik dengan kertas belum tentu otomatis bikin jejak lingkungan lebih kecil. Bisa saja dampaknya hanya berpindah, dari persoalan sampah plastik menjadi penggunaan air, energi, dan emisi karbon.
Ada Dasar Ilmiah?
Fakta ini ternyata bukan sekadar opini di medsos aja. Menurut laporan Life Cycle Assessment of Grocery Bags yang diterbitkan Danish Environmental Protection Agency pada 2018 menemukan bahwa kantong plastik LDPE memiliki dampak lingkungan yang relatif rendah untuk satu kali penggunaan.
Sementara itu, tas belanja berbahan katun perlu digunakan berulang kali hingga ribuan kali agar dampak lingkungannya setara. Temuan serupa juga muncul dalam penelitian yang diterbitkan di Journal of Cleaner Production. Studi tersebut menyebut industri pulp dan kertas membutuhkan energi dan air dalam jumlah besar selama proses manufaktur.
Penelitian dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura menunjukkan bahwa pada wilayah dengan sistem pengelolaan sampah yang baik, kantong plastik dalam kondisi tertentu justru memiliki dampak pemanasan global yang lebih rendah dibandingkan kantong kertas maupun tas katun.
Susah Pilih?
Jawabannya enggak sesimpel memilih plastik atau kertas. Para peneliti justru menyarankan agar publik fokus pada kebiasaan menggunakan barang secara bijak. Pakai seperlunya, gunakan berulang kali selama masih layak, lalu pastikan sampahnya dibuang dan dikelola dengan benar.
Intinya, jangan gampang ketipu sama label “eco-friendly“. Produk yang terlihat hijau belum tentu punya dampak lingkungan paling kecil kalau dilihat dari seluruh siklus hidupnya.
Jadi, lain kali sebelum ikut tren karena dianggap lebih ramah lingkungan, coba cek dulu faktanya. Karena menjaga bumi ternyata bukan soal ikut-ikutan ganti bahan, tapi soal publik menggunakan dan mengelola barang dengan lebih bertanggung jawab.
Kalau menurut kamu, gimana? Setelah tahu fakta ini, masih yakin kantong kertas selalu lebih ramah lingkungan daripada plastik?























