Presiden Prabowo Subianto menyentil dinamika persaingan politik saat ini yang menurutnya tidak wajar. Ia menyoroti upaya mobilisasi massa ke jalan hingga tindakan anarkis demi syahwat politik kelompok tertentu.
Kontestasi politik, terutama pemilu, merupakan hal yang wajar jika dimulai dengan rival tapi tetap harus diakhiri dengan persatuan demi kepentingan bangsa.
Dalam pidatonya pada Puncak Peringatan Hari Koperasi ke-79 Tahun 2026, Prabowo mengatakan perbedaan pandangan politik dan partai bukan suatu problem. Siapapun yang keluar sebagai pemenang dalam kontestasi lima tahunan itu harus dihormati dan bila kalah jangan anarkis.
“Tidak ada masalah, siapa yang menang, monggo. Jangan kalau kalah mau bakar-bakar, itu bangsa apa? Pemimpin yang menganjurkan bakar-bakar di republik ini adalah pemimpin pengkhianat”
kata Prabowo, dikutip dari akun Youtube Sekretariat Presiden, Senin, 13 Juli 2026.
Legowo
Eks Menteri Pertahanan itu kemudian mengungkapkan dirinya telah lima kali mengikuti pemilu, dengan empat kali kalah. Namun, ia mengaku tidak pernah menginstruksikan pendukungnya melakukan aksi kekerasan atau demonstrasi.
“Saya maju lima kali pemilihan (dalam Pilpres), empat kali kalah. Tidak pernah saya suruh anak buah saya bakar-bakar. Demo saja tidak. Saya datang pelantikan rival, saya hormat, saya kasih selamat,”
aku dia.
Menurut Prabowo, kompetisi politik merupakan hal yang biasa dalam demokrasi. Setelah kontestasi selesai, seluruh pihak harus kembali bersatu dan bekerja untuk kepentingan rakyat Indonesia.
“Kami bersaing, habis itu bersatu, bekerja untuk seluruh rakyat. Inilah bangsa Indonesia. Kami terima kritik. Kritik itu bagus, itu artinya koreksi,”
ucap dia.

























