Indonesia menepati posisi pertama sebagai negara dengan alokasi anggaran pendidikan paling minim di dunia jika diukur dari persentase Produk Domestik Bruto (PDB).
Fakta ini diungkap melalui laporan terbaru UNESCO Institute for Statistics yang diperbaharui pada 2025.
Dari 181 negara yang disurvei, Indonesia berada di posisi terbawah karena hanya menggunakan 1,3 persen PDB untuk sektor pendiidkan.
Tak hanya itu, merujuk dari dari Visual Capitalist yang menyandingkan anggaran ini dengan struktur demografis yang ada di Indonesia.
Khusunya menyandingkannya dengan proporsi pendudukan berusia 24 tahun kebawah sebagai indikator usia sekolah dan produktif muda.
Laporan dari Visual Capitalist pada 10 Juli 2026 menunjukkan ada angka yang kontras antara beban populasi muda yang harus ditanggung oleh anggaran tersebut.
Saat anggaran menjadi yang paling rendah, Indonesia ternyata punya basis penduduk muda yang sangat besar, yaitu mencapai 40,2 persen dari total populasi.
Berdasarkan data UNESCO Institute for Statistics yang dikutip Owrite pada 14 Juli 2026, berikut 10 negara dengan belanja pendidikan terendah berdasarkan presentase PDB:
1. Indonesia – alokasi PDB 1.3 persen dengan 40.2 persen penduduk usia dibawah 24 tahun.
2. Pakistan – alokasi PDB 2.0 persen dengan 56.2 persen penduduk usia dibawah 24 tahun.
3. Bangladesh – alokasi PDB 2.0 persen dengan 46.6 persen penduduk usia dibawah 24 tahun.
4. Singapore – alokasi PDB 2.2 persen dengan 25.6 persen penduduk usia dibawah 24 tahun.
5. Thailand – alokasi PDB 2.5 persen dengan 26.9 persen penduduk usia dibawah 24 tahun.
6. Vietnam – alokasi PDB 2.9 persen dengan 36.6 persen penduduk usia dibawah 24 tahun.
7. Ireland – alokasi PDB 2.9 persen dengan 31.6 persen penduduk usia dibawah 24 tahun.
8. Turkiye – alokasi PDB 3.1 persen dengan 35.4 persen penduduk usia dibawah 24 tahun.
9. Rumania – alokasi PDB 3.3 persen dengan 26.7 persen penduduk usia dibawah 24 tahun.
10. Japan – alokasi PDB 3.3 persen dengan 20.8 persen penduduk usia dibawah 24 tahun.
Dipengaruhi Banyak Faktor
Besar dan kecilnya anggaran pendidikan suatu negara dipengaruhi olah banyak faktor, mulai dari prioritas pemerintah, kondisi demografis, hingga kemampuan kas atau fisikal suatu negara.
Namun, dana besar tidak bisa dijadikan patokan bagus atau tidaknya pendidikan di suatu negara.
Karena kunci utama keberhasilan pendidikan justru terletak paa seberapa efektifkah penyerapan anggaran tersebut.
Selain itu, kualitas guru, tata kelola birokrasi yang bersih, serta meratanya akses pendidikan di daerah-daerah terpencil dinilai jadi penentu masa depan pendidikan suatu bangsa ketimbang besaran angka diatas kertas.






















