Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Rabu, 22 Jul 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Sepak Bola
  • DPR
  • Korupsi
  • Piala Dunia 2026
  • prabowo
  • MBG
  • Purbaya
  • iran
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Cari Tahu / Kenapa Orang Rela Berebut Gunungan? Ternyata Ini Makna Grebeg Yogyakarta yang Jarang Diketahui
Cari Tahu

Kenapa Orang Rela Berebut Gunungan? Ternyata Ini Makna Grebeg Yogyakarta yang Jarang Diketahui

Ani RatnasariIvan OWRITE
Last updated: Juli 21, 2026 10:22 am
By
Ani Ratnasari
Ani Ratnasari
ByAni Ratnasari
Internship
Mahasiswa IISIP Jakarta yang percaya bahwa setiap data punya cerita dan setiap kebijakan punya dampak. Sedang mendalami dinamika sosial sambil mengasah ketajaman kata di OWRITE.
Follow:
Ivan Syahruna Lubis
Ivan OWRITE
ByIvan Syahruna Lubis
Redaktur
Editor berita di OWRITE Media, meliput pemberitaan gaya hidup dan Peristiwa.
Follow:
5 jam lalu
Share
Grebeg Besar Yogyakarta
Grebeg Besar Yogyakarta (Foto: ambarrukmo.com)
SHARE

Kalau dengar Grebeg Besar Yogyakarta, kebanyakan orang mungkin langsung terbayang lautan manusia yang berebut isi gunungan.

Dalam hitungan detik, sayur, cabai, hingga jajanan tradisional langsung berpindah tangan. Sekilas memang terlihat chaos.

Padahal kalau kamu mau melihat lebih dalam, yang diperebutkan bukan sekadar hasil bumi. Di balik tradisi itu tersimpan makna rasa syukur, berbagi rezeki, bahkan simbol hubungan antara pemimpin dan rakyat.

Buat Gen Z yang suka mencari hidden meaning di balik sebuah tradisi, Grebeg Besar bisa dibilang menjadi bukti bahwa budaya lokal Indonesia ternyata menyimpan pesan yang masih relate sampai sekarang.

Bukan Sekadar Pesta Panen

Grebeg Besar merupakan salah satu upacara adat yang rutin digelar Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat setiap 10 Dzulhijjah atau bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha.

Baca juga:
Mengenal Tedak Siten, Upacara Adat Jawa sebagai Simbol Awal Perjalanan… Belakangan ini, tradisi tedak siten kembali menjadi sorotan setelah sejumlah selebriti Indonesia…
  • Mengenal Tedak Siten, Upacara Adat Jawa sebagai Simbol Awal Perjalanan Hidup Bayi

Meski sering disebut sebagai pesta panen, tradisi ini sebenarnya menjadi simbol rasa syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan.

Di saat yang sama, Grebeg juga dimaknai sebagai sedekah Sultan kepada masyarakat melalui hasil bumi yang dibagikan lewat gunungan.

Nama Grebeg sendiri dipercaya berasal dari kata gumrebeg yang berarti suara gemuruh atau keramaian. Ada pula yang menyebut berasal dari kata anggrebeg, yang bermakna mengiringi raja atau pembesar.

Grebeg Suro 2026: Ini Bedanya Tradisi Suro di Surakarta dan Yogyakarta

Nggak heran kalau sejak dulu Grebeg selalu identik dengan iring-iringan besar yang melibatkan prajurit, abdi dalem, hingga masyarakat.

Sudah Ada Sejak Sultan Hamengkubuwono I

Merujuk dari laman Keraton Yogyakarta, tradisi Grebeg pertama kali diselenggarakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I.

Sejak saat itu, gunungan menjadi ikon utama dalam prosesi Grebeg. Dulu jumlah dan jenisnya lebih beragam, mulai dari Gunungan Lanang, Gunungan Wadon, Gunungan Gepak, Gunungan Pawuhan, Gunungan Dharat, hingga Gunungan Kutug atau Brama pada tahun Dal.

Kini, masyarakat lebih sering menjumpai lima jenis gunungan, yakni Gunungan Kakung, Gunungan Putri, Gunungan Darat, Gunungan Gepak, dan Gunungan Pawuhan.

Namun khusus pada Grebeg Maulud tahun Dal yang hanya berlangsung setiap delapan tahun sekali dalam kalender Jawa, akan ada satu gunungan tambahan, yaitu Gunungan Brama atau Gunungan Kutug.

Filosofi Perebutan Gunungan

Kalau dilihat sekilas, gunungan memang hanya tampak seperti tumpukan sayur, cabai, kacang panjang, buah-buahan, hingga jajanan pasar saja.

Padahal, setiap isi gunungan disusun dengan makna tertentu. Hasil bumi melambangkan kemakmuran, sekaligus menjadi pengingat bahwa kesejahteraan kerajaan berasal dari alam dan pada akhirnya harus kembali kepada rakyat.

Setelah dikirab dari Keraton menuju Masjid Gedhe Kauman dan didoakan oleh Kyai Penghulu Keraton, seluruh isi gunungan akan diperebutkan masyarakat.

Nah, di sinilah banyak wisatawan mulai penasaran. Kenapa semua orang rela berdesakan hanya demi seikat kacang panjang atau beberapa buah cabai?

Jawabannya karena masyarakat percaya hasil bumi dari gunungan membawa berkah. Ada yang menyimpannya di rumah, menanamnya kembali di sawah atau kebun, bahkan menjadikannya simbol harapan agar usaha, panen, maupun rezeki mereka semakin lancar.

Jadi, ini bukan sekadar ikut rebutan karena FOMO, karena di balik keramaian itu ada keyakinan spiritual yang diwariskan turun-temurun.

Dulu Jadi Simbol Politik

Menariknya lagi, Grebeg ternyata bukan hanya memiliki makna religius dan budaya.

Pada masa awal berdirinya Kasultanan Yogyakarta, para bupati dari berbagai wilayah diwajibkan hadir dalam prosesi Grebeg sebagai bentuk kesetiaan kepada Sultan.

Ketidakhadiran mereka bahkan bisa dianggap sebagai tanda pembangkangan terhadap kerajaan. Pada masa kolonial, prosesi Grebeg juga memiliki tata upacara resmi yang mengatur posisi Residen Belanda hingga para pejabat Keraton.

Artinya, Grebeg bukan sekadar perayaan budaya, tetapi juga menjadi panggung yang menunjukkan wibawa kerajaan di hadapan rakyat maupun pihak luar.

Apakah Masih Relevan Buat Gen Z?

Seiring perkembangan zaman, Grebeg mungkin terlihat seperti tradisi kuno. Padahal kalau dipahami lebih dalam, nilai-nilai yang dibawanya justru terasa semakin relevan.

Di era media sosial, ketika algoritma sering mendorong orang berlomba terlihat paling sukses, Grebeg justru mengingatkan bahwa rezeki terbaik adalah rezeki yang bisa dibagikan.

Tradisi ini juga mengajarkan bahwa kemakmuran bukan soal siapa yang paling kaya, melainkan bagaimana hasil yang dimiliki bisa dirasakan bersama.

Bisa dibilang, filosofi Grebeg membuktikan bahwa sharing is caring bukan sekadar slogan, karena masyarakat Jawa sudah mempraktikkannya sejak ratusan tahun lalu.

Jadi, kalau suatu hari kamu melihat ribuan orang berebut gunungan, jangan buru-buru menganggapnya kuno atau sekadar tradisi tahunan.

Karena di balik momen yang terlihat riuh itu, tersimpan cerita panjang tentang rasa syukur, gotong royong, sejarah Islam di Jawa, hingga hubungan antara pemimpin dan rakyat.

Tradisi ini mengingatkan bahwa budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga cara untuk memahami nilai-nilai yang masih hidup dan relevan sampai hari ini.

Tag:Budaya YogyakartaGrebeg YogyakartaMakna GununganTradisi Jawa
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
Ani Ratnasari
ByAni Ratnasari
Internship
Follow:
Mahasiswa IISIP Jakarta yang percaya bahwa setiap data punya cerita dan setiap kebijakan punya dampak. Sedang mendalami dinamika sosial sambil mengasah ketajaman kata di OWRITE.
Ivan OWRITE
ByIvan Syahruna Lubis
Redaktur
Follow:
Editor berita di OWRITE Media, meliput pemberitaan gaya hidup dan Peristiwa.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Trending di OWRITE
Kontroversi Dody Hanggodo Bergulir, Elite Demokrat: Menteri Bertanggung Jawab ke Presiden
By Hardani Triyoga
Menteri PU Dody Hanggodo (kanan) meninjau Jembatan Enang-Enang di Desa Arul Cincin, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh.
1
Diduga Gelapkan Fee Rp3,2 M Milik Hotman Paris, Mengapa Keponakannya Nekat Akhiri Hidup?
By Rahmat Baihaqi
Sebuah bangunan puluhan lantai di perkotaan.
2
Ucapan Hotman Dinilai Berlebihan, Ketum LAKI Dukung Wartawan Tempuh Jalur Hukum
By Rahmat Tunny
Pengacara Hotman Paris Hutapea (tengah) berjalan memasuki Gedung Bundar saat tiba di Kejaksaan Agung, Jakarta.
3
Jejak Law Firm Diduga Afiliasi Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Terungkap, Kantor Lama Tinggalkan Permata Hijau
By Rahmat Baihaqi
Ilustrasi korupsi
4
Aneh tapi Nyata: Sempat Diculik dan Meronta, Laporan Kasus Atlet Golf Jesslyn Wijaya Kok Malah Dicabut?
By Rahmat Baihaqi
Atlet golf putri, Jesslyn Wijaya Lay.
5

BERITA LAINNYA

Cari Tahu

Rahasia Tubuh Kebal dalam Kesenian Debus Banten, Benarkah Tak Bisa Dilukai Senjata Tajam?

Kalau dengar kata Debus, mungkin yang langsung terlintas di kepala adalah pertunjukan…

Ani RatnasariIvan OWRITE
By
Ani Ratnasari
Ivan Syahruna Lubis
14 jam lalu
Cari Tahu

Daya Tarik Keraton Yogyakarta, Magnet Wisatawan Lokal dan Mancanegara

Yogyakarta selalu menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia. Di antara…

Hilwa UrwatulIvan OWRITE
By
Hilwa Urwatul Wutsqa
Ivan Syahruna Lubis
14 jam lalu
Semangkuk nasi merah. (Sumber: unsplash/Alexandra Tran)
Cari Tahu

Nasi Merah Lebih Sehat dari Nasi Putih? Kenali Fakta Gizi di Baliknya

Nasi merupakan makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Selain nasi putih…

Ossid Duha Jussas Salmadusep-malik
By
Ossid Duha Jussas Salma
Dusep Malik
4 hari lalu
Rumah adat Sumatera Barat, Rumah Gading.
Cari Tahu

Tak Banyak yang Tahu! Ini Sejarah Rumah Gadang yang Tahan Gempa

Rumah Gadang merupakan salah satu rumah adat paling ikonik di Indonesia. Atapnya…

Ani RatnasariRahmat Tunny OWRITE
By
Ani Ratnasari
Rahmat Tunny
5 hari lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up