Kalau dengar Grebeg Besar Yogyakarta, kebanyakan orang mungkin langsung terbayang lautan manusia yang berebut isi gunungan.
Dalam hitungan detik, sayur, cabai, hingga jajanan tradisional langsung berpindah tangan. Sekilas memang terlihat chaos.
Padahal kalau kamu mau melihat lebih dalam, yang diperebutkan bukan sekadar hasil bumi. Di balik tradisi itu tersimpan makna rasa syukur, berbagi rezeki, bahkan simbol hubungan antara pemimpin dan rakyat.
Buat Gen Z yang suka mencari hidden meaning di balik sebuah tradisi, Grebeg Besar bisa dibilang menjadi bukti bahwa budaya lokal Indonesia ternyata menyimpan pesan yang masih relate sampai sekarang.
Bukan Sekadar Pesta Panen
Grebeg Besar merupakan salah satu upacara adat yang rutin digelar Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat setiap 10 Dzulhijjah atau bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha.
Meski sering disebut sebagai pesta panen, tradisi ini sebenarnya menjadi simbol rasa syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan.
Di saat yang sama, Grebeg juga dimaknai sebagai sedekah Sultan kepada masyarakat melalui hasil bumi yang dibagikan lewat gunungan.
Nama Grebeg sendiri dipercaya berasal dari kata gumrebeg yang berarti suara gemuruh atau keramaian. Ada pula yang menyebut berasal dari kata anggrebeg, yang bermakna mengiringi raja atau pembesar.
Nggak heran kalau sejak dulu Grebeg selalu identik dengan iring-iringan besar yang melibatkan prajurit, abdi dalem, hingga masyarakat.
Sudah Ada Sejak Sultan Hamengkubuwono I
Merujuk dari laman Keraton Yogyakarta, tradisi Grebeg pertama kali diselenggarakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I.
Sejak saat itu, gunungan menjadi ikon utama dalam prosesi Grebeg. Dulu jumlah dan jenisnya lebih beragam, mulai dari Gunungan Lanang, Gunungan Wadon, Gunungan Gepak, Gunungan Pawuhan, Gunungan Dharat, hingga Gunungan Kutug atau Brama pada tahun Dal.
Kini, masyarakat lebih sering menjumpai lima jenis gunungan, yakni Gunungan Kakung, Gunungan Putri, Gunungan Darat, Gunungan Gepak, dan Gunungan Pawuhan.
Namun khusus pada Grebeg Maulud tahun Dal yang hanya berlangsung setiap delapan tahun sekali dalam kalender Jawa, akan ada satu gunungan tambahan, yaitu Gunungan Brama atau Gunungan Kutug.
Filosofi Perebutan Gunungan
Kalau dilihat sekilas, gunungan memang hanya tampak seperti tumpukan sayur, cabai, kacang panjang, buah-buahan, hingga jajanan pasar saja.
Padahal, setiap isi gunungan disusun dengan makna tertentu. Hasil bumi melambangkan kemakmuran, sekaligus menjadi pengingat bahwa kesejahteraan kerajaan berasal dari alam dan pada akhirnya harus kembali kepada rakyat.
Setelah dikirab dari Keraton menuju Masjid Gedhe Kauman dan didoakan oleh Kyai Penghulu Keraton, seluruh isi gunungan akan diperebutkan masyarakat.
Nah, di sinilah banyak wisatawan mulai penasaran. Kenapa semua orang rela berdesakan hanya demi seikat kacang panjang atau beberapa buah cabai?
Jawabannya karena masyarakat percaya hasil bumi dari gunungan membawa berkah. Ada yang menyimpannya di rumah, menanamnya kembali di sawah atau kebun, bahkan menjadikannya simbol harapan agar usaha, panen, maupun rezeki mereka semakin lancar.
Jadi, ini bukan sekadar ikut rebutan karena FOMO, karena di balik keramaian itu ada keyakinan spiritual yang diwariskan turun-temurun.
Dulu Jadi Simbol Politik
Menariknya lagi, Grebeg ternyata bukan hanya memiliki makna religius dan budaya.
Pada masa awal berdirinya Kasultanan Yogyakarta, para bupati dari berbagai wilayah diwajibkan hadir dalam prosesi Grebeg sebagai bentuk kesetiaan kepada Sultan.
Ketidakhadiran mereka bahkan bisa dianggap sebagai tanda pembangkangan terhadap kerajaan. Pada masa kolonial, prosesi Grebeg juga memiliki tata upacara resmi yang mengatur posisi Residen Belanda hingga para pejabat Keraton.
Artinya, Grebeg bukan sekadar perayaan budaya, tetapi juga menjadi panggung yang menunjukkan wibawa kerajaan di hadapan rakyat maupun pihak luar.
Apakah Masih Relevan Buat Gen Z?
Seiring perkembangan zaman, Grebeg mungkin terlihat seperti tradisi kuno. Padahal kalau dipahami lebih dalam, nilai-nilai yang dibawanya justru terasa semakin relevan.
Di era media sosial, ketika algoritma sering mendorong orang berlomba terlihat paling sukses, Grebeg justru mengingatkan bahwa rezeki terbaik adalah rezeki yang bisa dibagikan.
Tradisi ini juga mengajarkan bahwa kemakmuran bukan soal siapa yang paling kaya, melainkan bagaimana hasil yang dimiliki bisa dirasakan bersama.
Bisa dibilang, filosofi Grebeg membuktikan bahwa sharing is caring bukan sekadar slogan, karena masyarakat Jawa sudah mempraktikkannya sejak ratusan tahun lalu.
Jadi, kalau suatu hari kamu melihat ribuan orang berebut gunungan, jangan buru-buru menganggapnya kuno atau sekadar tradisi tahunan.
Karena di balik momen yang terlihat riuh itu, tersimpan cerita panjang tentang rasa syukur, gotong royong, sejarah Islam di Jawa, hingga hubungan antara pemimpin dan rakyat.
Tradisi ini mengingatkan bahwa budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga cara untuk memahami nilai-nilai yang masih hidup dan relevan sampai hari ini.




















