Pernah nggak sih di awal hubungan pasangan kamu mengungkapkan pujian dan janji manis, kayak “aku tahu kamu adalah satu-satunya pasangan yang cocok buat aku“.
Wanita mana yang nggak akan berbunga-bunga mendengar ungkapan itu, apalagi memang dia adalah orang yang udah kamu suka dari lama.
Tapi jangan senang dulu, kalau kamu baru beberapa minggu menjalin hubungan, muncul perasaan seperti bertemu seseorang yang bener-bener serius membangun masa depan bersama. Namun gimana kalau semua rencana indah itu haya sebatas angan-angan?
Nah, di media sosial orang-orang mengenalnya dengan istilah feature faking, yakni perilaku ketika seseorang menjual mimpi tentang masa depan demi mendapatkan sesuatu di masa sekarang.
Biasanya dimulai dari yang kecil-kecil terlebih dahulu, seperti memberikan perhatian, kasih sayang, validasi, yang bertujuan agar pasangan bertahan dalam hubungan.
Kalau dilihat sekilas emang kelihatannya kayak pasangan yang punya komitmen buat masa depan. Padahal belum tentu janji yang dibuat itu ada niatan untuk benar-benar mewujudkannya.
Apa Itu Future Faking?
Merujuk pada laman Verywell Mind, future faking adalah taktik manipulasi ketika seseorang membuat janji atau rencana besar tentang masa depan tanpa ada niatan untuk mewujudkannya.
Menurut Psikolog klinik Dr. Sabrina Romanoff, pelaku future faking emang sengaja menciptakan ilusi hubungan akan melangkah ke jenjang serius, dengan tujuan agar pasangannya ini merasa aman, percaya, dan semakin terikat secara emosional.
Fenomena ini biasanya terjadi pada pelaku yang punya sifat narsistik karena mereka cenderung akan menggunakan harapan sebagai alat untuk mempertahankan kendali hubungan.
Tapi bukan berati setiap orang yang pernah ingkar janji bisa disebut sebagai narsistik ya. Psikoterapis Ricki Romm, LCSW menjelaskan bahwa yang membedakan pelaku future faking dengan yang lainnya adalah dari polanya.
Karena memang akan ada orag yang terlalu optimis, salah memperkirakan situasi, atau diharapkan kondisi tertentu yang merubah rencana mereka.
Tepi pelaku future faking adalah orang yang terus mengumbar janji besar, tapi aksinya nol besar. Ketika pasangannya mempertanyakan janji yang di buat, ia biasanya akan mencari alasan, mengalikan pembicaraan, atau justru malah buat janji yang ebi besar lagi.
Kenapa Banyak Orang yang Terjebak?
Biasanya pelaku future faking memang menyasar korban yang mendambakan hubungan serius yang mau melangkah ke jenjang pernikahan.
Makanya biasanya pelaku ini kan sering membicarakan masa depan dan membuat seolah-olah kamu memang spesial dan ini adalah pasangan yang tepat, yang tanpa sadar kamu mulai terbuai dengan janji-janji manisnya, bukan pada kenyataan yang sedang kalian jalani.
Padahal hubungan yang sehat itu dibangun dari tindakan yang nyata bkan sekedar kata-kata yang terdengar indah saja.
Ciri-ciri Sikap Future Faking
Kalau hubunganmu mengalami beberapa hal berikut, ada baiknya mulai lebih waspada.
- Terlalu cepat membahas pernikahan atau masa depan, padahal baru saling mengenal.
- Membuatmu merasa seperti sedang menjalani kisah cinta yang sempurna.
- Sering mengumbar rencana besar, tetapi tidak pernah benar-benar dimulai.
- Ucapan dan tindakan tidak pernah sejalan.
- Sulit mengakui kesalahan ketika janjinya tidak ditepati.
- Jarang meminta maaf dan lebih sering menyalahkan keadaan.
Dampaknya Future Faking
Future faking bukan hanya soal janji yang tidak ditepati. Menurut Verywell Mind, perilaku ini dapat mengikis kepercayaan dalam hubungan.
Hal ini sering kali membuat mulai mempertanyakan dirinya sendiri, merasa terlalu naif karena mudah percaya, bahkan kehilangan rasa percaya diri.
Yang lebih menyakitkan, seseorang bisa bertahan dalam hubungan bertahun-tahun hanya karena berharap semua janji itu suatu hari nanti akan menjadi kenyataan.
Gimana Cara Menghindarinya?
Kalau seseorang terus membicarakan masa depan bersamamu, jangan langsung menganggap itu sebagai bukti cinta tapi coba lihat apakah tindakannya benar-benar konsisten.
Psikolog Dr. Sabrina Romanoff menyarankan agar tidak terburu-buru mengambil keputusan besar, seperti menikah, tinggal bersama, atau menggabungkan keuangan. Beri waktu agar pasangan membuktikan komitmennya melalui tindakan, bukan sekadar ucapan.
Selain itu, jangan abaikan perasaanmu sendiri. Kalau ada sesuatu yang terasa janggal atau terlalu indah untuk menjadi kenyataan, tidak ada salahnya memperlambat langkah dan mengevaluasi hubungan tersebut.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat tidak diukur dari seberapa sering seseorang membahas masa depan. Hubungan yang sehat justru terlihat dari hal-hal sederhana seperti hadir ketika dibutuhkan, menepati janji, dan konsisten memperlakukan pasangannya dengan hormat.
Karena pada akhirnya, orang yang benar-benar serius tidak hanya pandai merancang masa depan, tetapi juga membuktikannya lewat tindakan hari ini.






















