Mahasiswa Universitas Trisakti menggelar aksi bertajuk ‘Seni Melawan, Suara Tak Terpadamkan’ di depan Kampus A Trisakti, Jakarta Barat. Aksi itu dilakukan tepat di bawah Flyover Grogol, Jakarta, Jumat, 31 Juli 2026, malam.
Agenda tujuan mereka sebagai bentuk kritik terhadap menyempitnya ruang kebebasan berpendapat dan berekspresi dalam kehidupan demokrasi.
Kegiatan ‘Seni Melawan, Suara Tak Terpadamkan’ lahir dari keyakinan bahwa kebebasan berpendapat dan berekspresi bukan sekadar hak konstitusional, melainkan fondasi kehidupan demokrasi,”
kata Presiden Mahasiswa Universitas Trisakti, Dheni Ribowo di lokasi kegiatan.
Menurut Dheni, kegiatan itu digagas sebagai respons atas situasi yang memperlihatkan kritik publik semakin dipersempit. Pun, ruang berekspresi kian dipertanyakan.
Dengan kondisi seperti itu, seni dipilih sebagai medium untuk menyampaikan gagasan, keresahan, sekaligus harapan masyarakat terhadap demokrasi.
Ketika kritik semakin dipersempit maknanya dan ruang berekspresi semakin dipertanyakan. Seni jadi salah satu medium yang mampu menyampaikan gagasan, keresahan, dan harapan secara jujur serta bermakna,”
ujar Dheni.
Dheni menjelaskan kegiatan tersebut merupakan kolaborasi antara Kepresidenan Mahasiswa Universitas Trisakti dengan Desa Rupa Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti.
Ia bilang kolaborasi itu menunjukkan gerakan mahasiswa tak hanya hadir melalui mimbar bebas atau diskusi. Namun, juga lewat karya seni yang lahir dari kesadaran intelektual.
Dheni mengatakan mural, pembacaan puisi, refleksi, hingga lagu-lagu perjuangan dipilih sebagai media menyampaikan pesan bahwa demokrasi harus tetap memberi ruang bagi kritik dan kebebasan berpikir.
Setiap karya yang lahir bukan sekadar ekspresi artistik, tetapi juga representasi dari pikiran, sikap, dan kepedulian terhadap ruang demokrasi yang harus terus dijaga,”
jelasnya.
Lagu Perjuangan
Sementara, koordinator kegiatan Arief Rizquna menjelaskan rangkaian acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan pembuatan mural bersama di tembok Flyover Grogol, pembacaan puisi, sesi refleksi, hingga menyanyikan lagu-lagu perjuangan.
Seluruh rangkaian ini kami hadirkan sebagai ruang bersama untuk berdialog, berekspresi, dan mengingatkan bahwa demokrasi membutuhkan warga yang berani berpikir, berbicara, dan menyampaikan kritik,”
ujar Arief.
Lebih lanjut, Arief menyampaikan kritik seharusnya dipandang sebagai bagian dari partisipasi warga negara dalam mengawal kehidupan demokrasi. Bukan sebagai ancaman terhadap negara atau pemerintah.
Ia menilai demokrasi yang sehat justru lahir ketika setiap suara memiliki ruang untuk didengar.
Melalui kegiatan ini kami ingin menegaskan bahwa menyampaikan pendapat tidak boleh dipandang sebagai ancaman. Kritik adalah bagian dari partisipasi warga negara dalam mengawal kehidupan publik,”
tuturnya.
Dia menyampaikan kritik yang sehat bukanlah demokrasi yang bebas dari kritik.
Melainkan demokrasi yang mampu memberikan ruang bagi setiap suara untuk didengar,”
ujarnya.
Dia menambahkan kegiatan tersebut tak sekadar menampilkan karya seni. Tapi, juga menjadi simbol bahwa gagasan dan kritik tidak dapat dihentikan hanya dengan menghapus sebuah mural atau membatasi ruang berekspresi.
Ini adalah penegasan bahwa gagasan tidak dapat dihapus hanya dengan menghapus sebuah karya. Selama masih ada keberanian untuk berpikir, berkarya, dan bersuara, semangat kebebasan akan tetap hidup,”
kata Arief.


























