Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan alasan batalnya melakukan serangan militer besar-besaran terhadap Iran. AS batalkan serangan itu setelah negara di Timur Tengah lainnya meminta waktu untuk merampungkan kerangka kesepakatan damai.
Trump mengklaim Israel ikut berkomitmen dalam langkah tersebut. Dalam unggahannya di Truth Social, Trump klaim kedua pihak sudah sepakat dengan ‘batasan’ dari kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz secara segera, lengkap, dan total. Selain itu, Presiden kontroversial itu juga menyinggung ancaman nuklir Iran.
Memutuskan membatalkan serangan tersebut demi kepentingan dunia di masa depan. Dan, demikian pula kelangsungan hidup Iran yang sukses dan makmur,”
tulis Trump dikutip dari Anadolu Ajansi, Senin, 3 Agustus 2026.
Meski demikian, Trump mengatakan langkah membatalkan serangan itu bergantung pada kemampuan semua pihak untuk segera mencapai kesepakatan. Ia juga mengaku siap untuk kembali bertempur dengan Teheran jika kesepakatan gagal.
Amerika Serikat siap tempur dan siaga untuk melawan Republik Islam Iran, dengan tingkat teror militer, kekuatan, dan kekuasaan yang belum pernah terlihat sejak Perang Dunia II,”
lanjut Trump.
Politikus dari Partai Republik itu juga mengatakan Israel sudah menyetujui komitmen untuk menahan diri dari serangan.
Ayo bekerja, semuanya, dan selesaikan ini,”
ujarnya.
Sehari kemudian, pada Minggu, 2 Agustus 2026, Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran akan dimulai pada Senin sore. Ia mengaku optimis mengenai syarat kesepakatan Selat Hormuz dan denuklirisasi Iran bisa segera tercapai.
Pun, saat bicara kepada wartawan di Air Force One dalam perjalanan menuju Maryland, Trump mengatakan komunikasi dengan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Iran mendorongnya membatalkan serangan besar-besaran yang sebelumnya direncanakan pada Jumat, 31 Juli 2026.
Mereka tidak ingin kami melakukannya, dan terus terang, Arab Saudi juga tidak menginginkannya. Mereka mengira kesepakatan sudah dekat, yang berkaitan dengan Selat Hormuz dan pada akhirnya juga denuklirisasi,”
tutur Trump.























