Pengamat ekonomi kreatif Febryan Wishnu mengatakan, tekanan terhadap ekonomi rumah tangga dinilai semakin berat di tengah melemahnya daya beli masyarakat.
Ia menilai, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius pemerintah agar belanja negara benar-benar mampu mendorong pemulihan ekonomi masyarakat.
Ketika masyarakat menggadaikan aset untuk membeli beras, dan pada saat yang sama negara menggelontorkan anggaran ratusan triliun untuk program-program yang manfaatnya dijanjikan dalam jangka panjang, ada sesuatu yang tidak sinkron dalam logika kebijakan tersebut,”
kata Wishnu saat diubungi Owrite, Selasa, 4 Ağustos 2026.
Ditambahkannya, persoalan utama bukan terletak pada benar atau salahnya kebijakan pemerintah, melainkan pada penentuan prioritas di tengah tekanan ekonomi yang sedang dirasakan masyarakat.
Ini bukan soal pemerintah salah atau benar secara ideologis. Ini soal urgensi dan sequencing kebijakan,”
ucapnya.
Ia menilai, pemerintah memang memiliki visi pembangunan jangka panjang melalui berbagai program strategis. Namun, manfaat jangka panjang tersebut harus diimbangi dengan kebijakan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat saat ini.
Saya memahami bahwa program-program prioritas pemerintah memiliki logika pembangunan jangka panjang yang bisa dipertahankan. Tidak ada yang bisa membantah bahwa investasi jangka panjang menciptakan fondasi untuk pertumbuhan,”
ungkapnya.
Teori Vs Realita
Meski demikian, Wishnu mengingatkan bahwa kondisi di lapangan menunjukkan tantangan yang berbeda. Tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat, sambungnya, saat ini membutuhkan respons yang lebih cepat.
Tapi teori pembangunan dan realita lapangan sering kali berbicara dalam bahasa yang berbeda, dan saat ini lapangan sedang berteriak,”
jelasnya.
Wishnu menambahkan, gejala pelemahan daya beli sudah terlihat dari sektor ekonomi kreatif. Banyak pelaku usaha kecil mengalami penurunan permintaan karena masyarakat mulai menekan pengeluaran.
Pelaku usaha kreatif skala kecil mulai melaporkan penurunan order yang signifikan. Produk kreatif adalah kategori yang pertama dipotong ketika rumah tangga mengencangkan ikat pinggang,”
tegasnya.
Kondisi tersebut menurutnya menjadi sinyal awal, bahwa konsumsi rumah tangga sedang mengalami tekanan. Karena itu, pemerintah perlu memastikan setiap belanja negara benar-benar memberi dampak langsung terhadap pendapatan masyarakat.
Perlu Evaluasi
Ditegaskan Wishnu, yang perlu dievaluasi bukan hanya alokasi, tapi mekanisme transmisi belanja. Dari setiap rupiah yang dibelanjakan APBN, berapa yang benar-benar sampai ke kantong masyarakat kelas bawah dan menengah sebagai pemasukkan.
Jika sebagian besar belanja negara terserap oleh kontraktor besar, impor barang modal, atau birokrasi administrasi, maka multiplier effect-nya terhadap konsumsi domestik sangat terbatas,”
sambungnya.
Karena itu, Wishnu mengusulkan pemerintah melakukan evaluasi terbuka terhadap efektivitas program prioritas.
Ia juga mendorong agar sektor ekonomi kreatif mendapat perhatian lebih besar, karena dinilai mampu menciptakan perputaran uang yang cepat di tingkat lokal.
Lakukan audit transmisi manfaat secara jujur dan publik. Identifikasi program mana yang multiplier-nya paling tinggi terhadap konsumsi rumah tangga dalam 12 bulan ke depan, dan perkuat alokasi ke arah sana,”
tutup Wsihnu.























