Saat bepergian, makanan menjadi salah satu hal utama yang dibawa untuk menemani perjalanan. Selain mengganjal rasa lapar, camilan juga dapat membantu mengusir bosan, terutama saat menempuh perjalanan yang cukup lama.
Karena praktis, banyak orang memilih membawa camilan seperti keripik, biskuit, cokelat, hingga minuman kemasan sebagai bekal selama di perjalanan.
Namun, tahukah kamu bahwa sebagian besar camilan dan minuman kemasan yang sering dibawa saat bepergian termasuk dalam kategori ultra-processed food (UPF) atau makanan ultra-proses?
Keripik dalam kemasan, biskuit, permen, minuman bersoda, teh manis kemasan, hingga mi instan merupakan contoh makanan yang telah melalui proses pengolahan industri secara intensif dan mengandung berbagai bahan tambahan, seperti pengawet, pemanis buatan, pewarna, perisa, serta pengemulsi.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa konsumsi makanan ultra-proses secara berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis. Namun, apa sebenarnya makanan UPF, dan mengapa jenis makanan ini perlu dibatasi?
Berikut penjelasan lengkap mengenai makanan UPF, contoh-contohnya, serta dampaknya terhadap kesehatan.
Makanan UPF?
Mengutip dari Hello Sehat, Ultra-Processed Food (UPF) atau makanan ultra-proses adalah makanan yang telah mengalami proses pengolahan industri secara intensif dengan tambahan berbagai bahan yang tidak umum digunakan dalam masakan rumahan.
Menurut sistem klasifikasi NOVA, makanan UPF umumnya mengandung kombinasi bahan seperti:
- Pemanis buatan atau tambahan gula dalam jumlah tinggi.
- Garam dalam kadar tinggi.
- Lemak jenuh atau lemak trans.
- Pewarna makanan.
- Perisa buatan.
- Pengawet.
- Pengemulsi, penstabil, dan pengental.
Contoh Makanan UPF
Tidak semua makanan kemasan termasuk UPF. Namun, beberapa contoh makanan ultra-proses yang umum dijumpai seperti mi instan, minuman bersoda, sosis, nugget olahan, serta makanan siap saji (fast food).
Sebaliknya, makanan seperti buah segar, sayuran, telur, ikan segar, kacang-kacangan, dan nasi yang dimasak di rumah bukan termasuk UPF meskipun mengalami proses sederhana seperti dicuci, dipotong, atau dimasak.
Ultra-processed food sering dikonsumsi oleh banyak orang tanpa disadari. Hal ini terjadi karena rasanya yang sangat enak, harganya murah, dan sangat praktis.
Industri sengaja merancangnya agar membuat otak ketagihan, mudah disimpan lama, dan siap saji tanpa perlu dimasak lama.
Konsumsi Makanan
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsumsi makanan ultra-proses secara berlebihan dapat berdampak buruk bagi kesehatan, terutama jika dilakukan dalam jangka panjang.
- Meningkatkan Risiko Obesitas Makanan UPF umumnya tinggi kalori, gula, lemak, dan garam, tetapi rendah serat. Kombinasi ini membuat seseorang lebih mudah makan berlebihan sehingga berat badan meningkat.
- Meningkatkan Risiko Diabetes Tipe 2 Kandungan gula tambahan yang tinggi dapat menyebabkan lonjakan kadar gula darah berulang. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko resistensi insulin dan diabetes tipe 2.
- Memicu Penyakit Jantung Asupan natrium, lemak jenuh, dan lemak trans yang tinggi pada beberapa makanan ultra-proses dapat meningkatkan tekanan darah, kadar kolesterol jahat (LDL), serta risiko penyakit jantung dan stroke.
- Mengganggu Kesehatan Pencernaan Sebagian besar makanan UPF rendah serat sehingga dapat mengurangi jumlah bakteri baik di usus. Padahal, mikrobiota usus berperan penting dalam menjaga sistem pencernaan dan daya tahan tubuh.
- Meningkatkan Risiko Kanker Sejumlah penelitian observasional menemukan hubungan antara konsumsi UPF yang tinggi dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker. Meski demikian, hubungan ini masih terus diteliti untuk memahami mekanisme penyebabnya secara lebih mendalam.
- Berpengaruh terhadap Kesehatan Mental Beberapa studi menunjukkan bahwa pola makan tinggi UPF berkaitan dengan meningkatnya risiko depresi dan gangguan suasana hati. Meski demikian, hubungan sebab-akibatnya masih memerlukan penelitian lebih lanjut.





















