Pengakuan Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria bahwa kondisi perusahaan badan usaha milik negara (BUMN) karya ‘tidak baik-baik saja’ dinilai menjadi pengakuan terbuka atas persoalan yang telah lama menumpuk.
Pengamat Ekonomi dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita menilai akar persoalan BUMN konstruksi bukan sekadar dipicu pelemahan siklus bisnis, melainkan bersifat struktural akibat akumulasi kebijakan dan model bisnis selama bertahun-tahun.
Pengakuan COO Danantara bahwa BUMN karya ‘tidak baik-baik saja’ justru saya lihat sebagai titik awal yang jujur, tetapi sekaligus mengonfirmasi bahwa masalahnya bersifat struktural dan sudah lama terakumulasi,”
kata Ronny kepada Owrite, Selasa, 4 Agustus 2026.
Model Bisnis yang Dipaksakan


Menurutnya, persoalan tersebut berawal dari kombinasi model bisnis yang dipaksakan, ekspansi agresif dengan pembiayaan utang (leverage) tinggi, hingga penugasan proyek yang secara finansial tidak selalu layak.
Selama bertahun-tahun, BUMN karya berfungsi sebagai quasi-fiscal agent untuk mendorong pembangunan infrastruktur, tetapi tanpa disiplin komersial yang memadai. Akibatnya, neraca mereka dipenuhi utang jangka panjang dengan arus kas yang tidak sebanding, sementara banyak proyek memiliki tingkat pengembalian yang rendah atau sangat lambat,”
ujarnya.
Meski demikian, ia menilai langkah penyehatan yang tengah dilakukan Danantara pada dasarnya sudah berada di jalur yang tepat. Hanya saja, proses pemulihan diperkirakan tidak akan berlangsung cepat mengingat tingginya beban utang dan menurunnya kualitas aset.
Dengan beban utang yang besar dan kualitas aset yang sudah tergerus, ruang untuk pemulihan cepat sangat terbatas. Restrukturisasi utang saja tidak cukup jika tidak diikuti perombakan model bisnis secara fundamental,”
jelasnya.
Ia menambahkan, dalam sejumlah kasus, sebagian aset BUMN karya juga sudah tidak lagi produktif sehingga proses penyehatan berpotensi membutuhkan langkah yang lebih besar, mulai dari divestasi aset hingga konsolidasi perusahaan.
BUMN Hadapi Tekanan Berat


Sebelumnya, Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria mengakui kondisi keuangan sejumlah BUMN masih menghadapi tekanan berat. Menurutnya, proses penyehatan perusahaan pelat merah harus dilakukan secara bertahap karena keterbatasan sumber daya.
Selain itu, persoalan tersebut tidak hanya terjadi di BUMN karya, tetapi juga merambah sektor lain seperti properti. Dony mencontohkan kondisi PT PP Properti Tbk yang harus melakukan impairment aset dalam jumlah besar sebelum dapat dipulihkan.
Sebagai informasi, empat emiten BUMN konstruksi, yakni PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), PT PP (Persero) Tbk (PTPP), PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT), sama-sama membukukan rugi bersih sepanjang 2025.
Jika dijumlahkan, total kerugian keempat perusahaan tersebut mencapai sekitar Rp25,1 triliun, disertai beban utang yang masih tinggi.
























