Nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir bergerak di rentang Rp17.800-Rp18.100 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan rupiah ini mayoritas dinilai karena faktor dalam negeri.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Dipo Satria Ramli memperkirakan rupiah akan sulit turun di bawah level Rp17.000 per dolar AS pada tahun ini. Padahal, untuk tahun ini asumsi nilai tukar rupiah yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar Rp16.500 per dolar AS.
Kalau Rp16.000 kayaknya berat ya, Rp16.000 berat karena memang trendnya melemah dan memang kan tergantung pemerintahnya ngapain ya. Maksudnya tergantung performance ekonominya dan lain-lain, tapi kalau di bawah Rp17.000 menurut saya berat sih,”
ujar Dipo saat dihubungi Owrite Selasa, 4 Juli 2026.
Fluktuasi Rupiah


Dipo menjelaskan, penyebab nilai tukar rupiah yang akhir-akhir ini bergerak berfluktuatif di rentang Rp17.800-Rp18.100 per dolar AS, karena adanya intervensi mati-matian oleh Bank Indonesia (BI).
Memang trend-nya kan melemah ya rupiah ini. Lalu memang dari Bank Indonesia itu dia lumayan abis-abisan, jadi misalnya dia intervensi di pasar spot atau pasar DNDF, tapi intinya dia intervensi pasarnya memang lumayan agresif,”
jelasnya.
Dipo menyebut, cadangan devisa yang sudah digunakan dalam intervensi guna menstabilkan rupiah mencapai US$11 miliar mulai Desember 2025 hingga Juni 2026.
Jadi kalau kita ngelihat data misalnya dari Desember 2025 ke misalnya, ke Juni itu kita hampir sekitar US$11 miliar tuh turun cadangan devisanya,”
terangnya.
Langkah intervensi ini dilakukan, lantaran BI tidak menginginkan rupiah menembus level Rp18.500 per dolar AS. Sebab, pelemahan rupiah hingga menembus level tersebut akan memperburuk kondisi pasar.
Bank Indonesia itu dia enggak mau misalnya ke Rp18.500 gitu contohnya ya. Karena kalau ke Rp18.500 itu nanti psikologi selanjutnya tuh Rp20.000, bukan Rp19.000 atau Rp19.500. Jadi makanya mereka benar-benar usahain biar nih di seputar ini aja nih,”
terangnya.
70 Persen Didorong Domestik


Dipo menuturkan, mayoritas sentimen pendorong pelemahan rupiah berasal dari dalam negeri. Dia menjelaskan, sentimen eksternal hanya menyumbang 30-40 persen pelemahan rupiah.
Jadi kalau saya lihatnya mungkin kira-kira 30-40 persen tuh mungkin karena global ya, betul. Jadi karena si perang Iran, harga minyak,”
ujarnya.
Sedangkan, faktor domestik sebesar 60-70 persen menjadi pendorong pelemahan rupiah. Beberapa biang kerok itu diantaranya kebijakan pemerintah yang berubah-ubah, salah satunya mundurnya Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur BI.
Jadi yang pertama faktornya adalah soal kebijakan yang berubah-ubah. Atau misalnya terakhir yang BI ini mundur, jadi itu sentimen,”
terangnya.
Kemudian sentimen dalam negeri berasal dari sorotan investor terhadap transparansi dan akuntabilitas terkait Danantara dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), selanjutnya pelemahan juga karena menyempitnya ruang fiskal.
Tapi memang kalau 60-70 persen ya karena faktor domestik. Justru karena kitanya nggak kuat gitu jadi di badannya nggak sehat, kena flu dikit aja langsung jatuh gitu,”
tuturnya.
Adapun pada penutupan perdagangan Selasa, 4 Agustus 2026 rupiah melemah 0,17 persen atau 30 poin ke level Rp18.027 per dolar Amerika Serikat (AS).

























