Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran Jannus TH Siahaan menilai dominasi figur atau simbol berlatar belakang militer dalam institusi pendidikan sipil seperti Universitas Republik Indonesia (URI) berpotensi memengaruhi cara generasi muda memaknai otoritas dan kepemimpinan.
Dari perspektif sosiologi simbolik, dominasi figur atau simbol berlatar militer dalam institusi sipil akan membentuk imajinasi kolektif generasi muda tentang otoritas. Mereka bisa mulai mengasosiasikan legitimasi kepemimpinan dengan atribut militer, seperti ketegasan, kekuatan, dan komando, ketimbang dengan kapasitas deliberatif, empati sosial, dan akuntabilitas,”
kata Jannus kepada Owrite, Selasa, 4 Agustus 2026.
Menurut Jannus, persoalan tersebut menjadi penting ketika URI diarahkan sebagai institusi yang berperan dalam pembentukan calon pemimpin sipil. Sebab, nilai yang ditanamkan dalam proses pendidikan berpotensi memengaruhi karakter kepemimpinan yang dibawa peserta didik ketika nantinya masuk ke ruang publik.
Geser Keseimbangan Sipil-Militer


Jika otoritas lebih sering direpresentasikan melalui figur dan simbol yang lekat dengan kultur militer, kata dia, generasi muda berpotensi memahami kepemimpinan melalui perspektif yang menitikberatkan pada ketegasan, kekuatan, dan komando.
Ini berbahaya dalam jangka panjang karena dapat menggeser keseimbangan sipil-militer dalam demokrasi, bukan secara formal, tetapi secara kultural dan psikologis,”
tuturnya.
Menurut dia, demokrasi modern tidak cukup hanya mengandalkan aturan konstitusional yang menempatkan supremasi sipil. Prinsip tersebut juga harus tumbuh dalam kesadaran sosial masyarakat, termasuk melalui institusi pendidikan yang membentuk generasi calon pemimpin.
Padahal demokrasi modern justru menuntut supremasi sipil yang kuat, bukan hanya secara konstitusional, tetapi juga dalam kesadaran sosial,”
tandasnya.























