Merokok di kawasan permukiman padat penduduk dapat memperburuk ancaman kesehatan, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang sudah menghadapi persoalan gizi, sanitasi, dan akses layanan kesehatan.
Ahli kesehatan masyarakat dr. Dicky Budiman, M.Sc., P.H. mengatakan risiko kesehatan pada masyarakat dengan kondisi ekonomi sulit dapat meningkat ketika berbagai faktor risiko terjadi secara bersamaan, termasuk paparan asap rokok di lingkungan hunian yang padat.
Masyarakat yang kesulitan ekonomi itu sering kali gizinya minim, dengan sanitasi yang buruk. Kalau ada anggota keluarga atau tetangga di permukiman padat yang merokok, ada paparan asap rokok yang intens. Ini akan meningkatkan ancaman kesehatan bagi masyarakat menengah ke bawah,”
ujar Dicky dalam keterangannya, dikutip Rabu, 5 Agustus 2026.
Menurut Dicky, dampak berbagai faktor tersebut tidak selalu bersifat sederhana atau berdiri sendiri.
Dalam epidemiologi terdapat konsep sindemik, yakni kondisi ketika sejumlah faktor risiko dan masalah kesehatan saling berinteraksi sehingga dampaknya dapat menjadi lebih besar dibandingkan jika faktor tersebut terjadi secara terpisah.
Masyarakat berpenghasilan rendah kerap menghadapi kombinasi sejumlah persoalan, mulai dari kekurangan gizi, sanitasi buruk, kepadatan hunian, keterbatasan akses layanan kesehatan, hingga paparan asap rokok. Lima faktor ini saling memperkuat risiko terjadinya gangguan kesehatan,”
katanya.
Dicky menjelaskan, asap rokok mengandung lebih dari 7.000 senyawa kimia, termasuk zat toksik dan puluhan senyawa yang bersifat karsinogenik atau dapat menyebabkan kanker.
Paparan asap rokok dalam jangka panjang dapat melemahkan sistem imun, meningkatkan inflamasi sistemik, serta merusak sistem pernapasan.
Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular, seperti penyakit jantung, stroke, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan berbagai jenis kanker.
Perlu diingat bahwa WHO menegaskan tidak ada yang namanya paparan asap rokok yang aman, bahkan bagi perokok pasif, dan ini yang harus disadari,”
ujar Dicky.
Dampak Asap Rokok
Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang rentan terhadap dampak tersebut. Dicky menyebut paparan asap rokok dapat meningkatkan risiko pneumonia, infeksi telinga, asma, gangguan perkembangan paru, hingga gangguan tumbuh kembang.
Pada orang dewasa dengan kondisi ekonomi sulit, merokok itu memunculkan penyakit hipertensi, diabetes yang tidak terkontrol, penyakit jantung, hingga kanker yang pada akhirnya meningkatkan biaya pengobatan dan memperburuk kemiskinannya,”
ungkap Dicky.
Karena itu, Dicky menilai pengendalian paparan asap rokok tidak semestinya hanya dipandang sebagai persoalan perilaku individu.
Menurutnya, perlindungan masyarakat dari paparan asap rokok juga berkaitan dengan ketahanan kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
Fenomena ini dalam konteks global security tidak hanya menjadi masalah perilaku individu, tapi juga mengurangi ketahanan masyarakat dalam menghadapi krisis ekonomi, penyakit, maupun bencana karena populasi itu jadi lebih rentan terhadap penyakit,”
pungkasnya.



















