Epidemiolog sekaligus pakar Global Health Security dari Griffith University dan Universitas YARSI, Dicky Budiman mengatakan cuaca panas ekstrem tak hanya mengancam kelompok rentan seperti balita, lansia, dan ibu hamil.
Pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan juga menghadapi risiko tinggi mengalami heat stress karena tubuh terpapar suhu panas dan radiasi matahari dalam waktu lama.
Pekerja luar ruangan merupakan salah satu kelompok yang berisiko tinggi karena mereka terpapar panas dalam waktu lama. Ini bisa dialami petani, buruh bangunan, nelayan, polisi lalu lintas, tentara, petugas kebersihan, maupun pekerja lain yang banyak beraktivitas di lapangan,”
kata Dicky dalam keterangannya seperti dikutip pada Kamis, 6 Agustus 2026.
Menurut Dicky, persoalannya bukan hanya suhu udara yang tinggi. Di Indonesia, kombinasi suhu panas dan kelembapan tinggi dapat membuat mekanisme pendinginan tubuh tidak bekerja secara optimal.
Menurunkan Suhu Tubuh
Ketika tubuh mengeluarkan keringat, proses penguapan keringat seharusnya membantu menurunkan suhu tubuh.
Namun, kelembapan yang tinggi membuat proses tersebut tidak efektif sehingga panas lebih banyak tertahan di dalam tubuh.
Kondisi tersebut dapat memicu heat stress, yakni keadaan ketika tubuh mengalami beban panas berlebihan. Jika paparan berlanjut, kondisi ini dapat berkembang menjadi heat exhaustion hingga heat stroke yang merupakan kegawatdaruratan medis.
Dicky menjelaskan, dampak panas berlebihan juga tidak berhenti pada rasa lelah atau dehidrasi. Kehilangan cairan dan elektrolit dapat menyebabkan peningkatan denyut jantung, perubahan tekanan darah, gangguan fungsi ginjal, hingga gangguan fungsi otak.
Pada kondisi yang berat, panas ekstrem dapat menyebabkan risiko multiorgan. Terutama ketika suhu inti tubuh mencapai 40 derajat Celsius atau lebih, kondisi ini dapat menjadi heat stroke, yaitu kegawatdaruratan medis dengan risiko kematian tinggi jika tidak segera ditangani,”
jelasnya.
Siklus Kerja-Istirahat
Menurut Dicky, perlindungan pekerja luar ruangan tidak cukup hanya dengan mengingatkan mereka untuk minum. Pengaturan waktu kerja dan istirahat juga penting untuk mengurangi paparan panas yang terlalu lama.
Untuk pekerja luar ruangan, istirahat secara berkala sangat penting. Bahkan, WHO merekomendasikan penerapan siklus antara kerja dan istirahat yang disesuaikan dengan tingkat panas lingkungan,”
tutup Dicky.
Selain itu, pekerja perlu mendapat perlindungan dari paparan matahari langsung dan memiliki akses terhadap air minum serta tempat untuk beristirahat ketika kondisi lingkungan terlalu panas.





















