Kalau kamu ditanya pernah makan olahan singkong apa aja, pasti jawabanmu nggak jauh-jauh dari singkong rebus, singkong goreng, getuk, atau bahkan keripik singkok yang agak modern dikit.
Padahal indonesia itu kaya akan olahan singkong, di berbagai daerah yang ada di Indonesia punya cara tersendiri buat mengolah singkong. Tak heran singkok bisa dijuluki sebagai bahan pangan serba guna.
Tapi sayangnya, di tengah banyaknya pilihan makanan seperti sekarang ini membuat orang lebih memilih makanan yang dianggap lebih modern dan praktis. Makanya sekarang banyak yang menganggapolahan singkong hanya itu-itu saja.
Bukan karena rasanya tidak enak, tetapi karena keberadaannya perlahan tergeser makanan modern dan kebiasaan masyarakat yang semakin berubah.
Padahal, banyak olahan singkong ini yang menyimpan cerita tentang bagaimana masyarakat zaman dulu memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di sekitar mereka.
Karena dari singkong saja, lahir berbagai makanan dengan bentuk, tekstur, rasa, dan cara penyajian yang berbeda.
Dikutip dari unggahan TikTok akun @foodkalcerid5, berikut tujuh olahan singkong tradisional yang menarik untuk dikenali sebelum benar-benar terlupakan.
1. Growol
Growol merupakan makanan tradisional yang dikenal di Kulon Progo, Yogyakarta. Singkong yang menjadi bahan utamanya tidak langsung dimasak, tetapi terlebih dahulu direndam selama beberapa hari hingga mengalami proses fermentasi.
Setelah direndam, singkong dicuci, dihancurkan, lalu dikukus hingga matang. Hasilnya berupa makanan berwarna putih dengan tekstur padat dan agak kenyal serta memiliki aroma khas dari proses fermentasi. Growol biasanya disantap sebagai pengganti nasi dan dimakan bersama lauk, sayuran, atau sambal.
2. Gatot
Gatot dibuat dari gaplek, yaitu singkong yang sudah dikupas, dipotong, dan dikeringkan. Gaplek kemudian direndam kembali sebelum dimasak, sehingga teksturnya berubah menjadi lebih lunak dan kenyal.
Setelah dikukus, gatot biasanya disajikan dengan kelapa parut dan gula merah. Perpaduan rasa manis, gurih, dan tekstur gatot yang kenyal membuat makanan ini punya karakter yang berbeda dari olahan singkong pada umumnya.
3. Kabuto
Kabuto merupakan makanan tradisional berbahan singkong yang dikenal masyarakat Muna, Sulawesi Tenggara. Singkong terlebih dahulu dikeringkan sebelum melalui proses pengolahan kembali hingga bisa dikonsumsi.
Setelah dimasak, kabuto memiliki tekstur yang cukup padat dan kenyal dengan rasa yang sederhana. Makanan ini biasanya disantap sebagai pengganti nasi bersama ikan, sayuran, sambal, atau lauk khas daerah setempat.
4. Enbal
Enbal merupakan pangan tradisional masyarakat Maluku Tenggara yang berbahan dasar singkong. Pengolahannya dilakukan secara khusus, terutama karena masyarakat setempat mengenal jenis singkong yang perlu diproses terlebih dahulu agar aman dikonsumsi.
Enbal memiliki karakter yang cenderung kering dengan rasa khas singkong. Dalam perkembangannya, enbal dapat diolah menjadi berbagai bentuk makanan dan disantap sebagai pangan sehari-hari maupun pendamping lauk.
5. Kasuami
Kasuami merupakan makanan khas masyarakat Buton dan sejumlah wilayah di Sulawesi Tenggara. Cara membuatnya cukup sederhana, tetapi punya bentuk akhir yang unik. Singkong diparut, kemudian diperas untuk mengurangi kandungan airnya sebelum dikukus.
Adonan singkong tersebut kemudian dibentuk menyerupai kerucut. Teksturnya padat tetapi tetap lembut ketika dimakan, sementara rasanya cenderung gurih dan sederhana. Kasuami biasanya disantap bersama ikan, sayuran, kuah, dan sambal.
6. Rasi
Rasi merupakan makanan berbahan singkong yang digunakan sebagai alternatif nasi. Singkong diolah hingga menjadi butiran kecil yang bentuknya menyerupai beras, kemudian dimasak sebelum disantap.
Tekstur rasi terasa lebih berbutir dibandingkan nasi biasa, dengan rasa singkong yang cukup khas. Rasi biasanya dimakan bersama lauk, sayuran, dan sambal seperti ketika masyarakat menyantap nasi pada umumnya.
7. Sego Leye
Namanya memang menggunakan kata sego yang berarti nasi dalam bahasa Jawa, tetapi sego leye bukan dibuat dari beras. Makanan ini menggunakan singkong yang diolah sedemikian rupa sehingga dapat menjadi alternatif makanan pokok.
Teksturnya cenderung padat dengan rasa singkong yang sederhana. Sego leye biasanya disantap bersama lauk-pauk, sayuran, dan sambal. Dahulu, makanan seperti ini menjadi bagian dari cara masyarakat memenuhi kebutuhan pangan ketika beras tidak selalu mudah didapatkan.
Kenapa Olahan Singkong Ini Mulai Langka?
Keberadaan makanan tradisional tidak bisa dipisahkan dari perubahan kebiasaan makan masyarakat. Ketika beras dan berbagai makanan modern semakin mudah didapatkan, sejumlah pangan lokal yang dulu menjadi makanan sehari-hari perlahan mulai ditinggalkan.
Selain itu, proses pembuatan beberapa makanan tradisional juga membutuhkan waktu dan keterampilan khusus. Proses fermentasi, pengeringan, perendaman, hingga pengolahan berulang membuat makanan tersebut tidak selalu praktis untuk dibuat di tengah gaya hidup yang serba cepat.
Padahal, olahan singkong seperti growol, gatot, kabuto, hingga enbal bukan sejatinya bukan sekadar makanan biasa. Di balik makanan tersebut menyimpan sejarah bagaimana nenek-nenek kita dulu hidup dan memanfaatkan sumber daya yang ada sebagai makanan.
Dengenalnya kembali bisa menjadi langkah kecil untuk menjaga agar makanan-makanan tersebut tidak hanya tinggal nama. Sebab, sebelum benar-benar hilang dari meja makan, pangan lokal Nusantara juga layak mendapat kesempatan untuk dikenal oleh generasi muda.
















