Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) merespons temuan ratusan senjata di salah satu sekolah di Jakarta Selatan. Hal itu memicu pertanyaan soal pengawasan keamanan di lingkungan pendidikan.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengatakan pihaknya telah berkomunikasi dengan sekolah terkait.
“Kami sudah komunikasi dengan pihak sekolah. Kemendikdasmen berkomitmen (agar) sekolah menjadi rumah kedua bagi anak-anak, sehingga mereka tetap bisa belajar dengan aman dan nyaman,”
kata Mu’ti, dikutip Selasa, 11 Agustus 2026.
Namun, dia menyatakan kepolisian yang memiliki otoritas untuk menjelaskan temuan senjata tersebut. Mu’ti juga mengatakan bahwa pengawasan sekolah menjadi kewenangan pemerintah daerah, Kemendikdasmen tidak menjadi satu-satunya pihak yang bertanggung jawab mengawasi lingkungan pendidikan.
“Pengawasan sekolah oleh pemerintah daerah sesuai dengan kewenangan,”
ujar Mu’ti.
Mu’ti memastikan pemerintah pusat telah berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait untuk mencari solusi atas persoalan tersebut.
“Kami sudah komunikasi, kami sudah komunikasi dengan pihak-pihak terkait dan sedang dicari jalan keluar,”
kata dia.
Alur
Juli 2026, pihak pengurus baru yayasan bersama kuasa hukum membuka salah satu ruangan bekas kantor Ketua Yayasan lama (berinisial IWD) yang lama terkunci. Di dalam ruangan tersebut, mereka menemukan 995 pucuk senjata. Lalu pada Agustus ini, usai melaporkan temuan itu kepada polisi, pihak yayasan didampingi Polres Metro Jakarta Selatan kembali membuka ruangan lain.
Di ruangan baru itu, mereka menemukan hampir seribu unit senjata angin/airsoft gun, Komponen laras senjata (kaliber 5,56 mm), magasin kapasitas besar, serta alat pembuat/pengisi amunisi, satu pucuk senjata api, narkotika, dan VCD porno.
Polisi pun mendalami perkara dan hasilnya 995 pucuk senjata itu merupakan airsoft gun. Kini kepolisian harus menelusuri informasi ratusan senjata tersebut diperuntukkan kegiatan ekstrakurikuler sekolah.




























