Label sekolah inklusif ternyata belum menjamin terpenuhinya kebutuhan pendidikan anak neurodivergent.
Hal ini terungkap dalam survei yang dirilis Atelier of Minds (AOM) yang menunjukkan adanya kesenjangan antara penerapan pendidikan inklusif dan kebutuhan anak di sekolah.
Survei terhadap 173 orangtua anak neurodivergent di Indonesia pada Mei-Juli 2026 mencatat sebanyak 33 persen responden merasa guru di sekolah belum memahami kebutuhan anak mereka.
Sementara itu, sekitar 24 persen orang tua mengatakan anaknya belum memperoleh akomodasi belajar yang sesuai, termasuk di sekolah yang memiliki program inklusi.
Pendidikan Inklusif
Founder AOM Chatrine Siswoyo mengatakan pendidikan inklusif seharusnya tidak berhenti pada penerimaan anak di sekolah. Sekolah juga perlu memahami cara belajar dan kebutuhan masing-masing anak.
Yang pertama itu mungkin mengerti dulu, memahami. Dari pihak sekolah harus mengerti bahwa neurodivergent itu memang brain-nya work differently,”
ujar Chatrine di Jakarta, pada Senin 10 Agustus 2026.
Kesenjangan penerapan pendidikan inklusif ternyata memang sering dirasakan oleh orang tua.
Founder Komunitas Berspektrum Nadira Saraswati mengaku pernah menerima cerita dari orang tua yang anaknya diminta keluar dari sekolah meski bersekolah di institusi yang memiliki label inklusif.
Banyak yang cerita, anakku baru tiga hari masuk sekolah, ternyata sudah dikeluarkan sama sekolahnya karena dianggap berbeda,”
ujar Nadira.
Menurut Nadira, kondisi tersebut membuat orang tua kembali mempertanyakan label sekolah inklusif seperti apa yang benar-benar mampu memenuhi kebutuhan anak mereka.
Lead Psychologist AOM Erna Yulianti mengatakan sebenarnya kesiapan sekolah inklusif bisa dilihat dari kemampuan mereka merespons kebutuhan anak dalam kegiatan belajar sehari-hari.
Akomodasi tersebut tidak selalu harus berupa fasilitas khusus. Tapi lebih ke sekolah bisa menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan anak.
Seperti memberikan free time ketika anak membutuhkan kesempatan untuk mengatur diri, menggunakan bantuan visual, atau memberikan instruksi secara bertahap.
Selain itu, komunikasi antara sekolah dan keluarga juga penting. Informasi mengenai kondisi anak di sekolah dapat membantu orangtua memahami perkembangan anak sekaligus menjaga pendekatan yang konsisten di rumah.
Karena itu, menurut Erna orangtua perlu melihat langsung bagaimana sekolah menerapkan sistem inklusi, bukan hanya berdasarkan label yang tercantum dalam program sekolah.




















