Seorang warga negara Indonesia (WNI) yang jadi awak kapal dagang Tihama tewas dalam serangan rudal kelompok Houthi di Selat Bab al-Mandeb, pada Selasa, 11 Agustus 2026. Serangan itu juga menewaskan tiga awak kapal asal Pakistan dan melukai empat orang lainnya.
Kementerian Perhubungan Yaman menyebut kapal Tihama jadi sasaran tiga serangan rudal balistik secara beruntun saat tengah berlayar di salah satu jalur pelayaran strategis di dunia tersebut. Imbas serangan, kapal yang membawa pasokan makanan itu kemudian mengalami kebakaran dan kerusakan material.
Serangan terhadap kapal komersial sipil, pelabuhan, dan fasilitas yang terkait dengan transportasi maritim merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional serta konvensi dan aturan internasional yang mengatur keselamatan dan keamanan navigasi maritim,”
kata Kementerian Perhubungan Yaman dikutip dari laman resminya, Rabu, 12 Agustus 2026.
Kementerian Perhubungan Yaman menjelaskan, saat tim penyelamat berupaya mencapai kapal untuk mengevakuasi awak yang terluka, kelompok Houthi kembali meluncurkan rudal ke arah Tihama.
Serangan susulan Houthi itu disebut berupaya menghambat operasi penyelamatan sekaligus membahayakan awak kapal dan tim penyelamat ke area menuju Laut Merah.
Selain empat awak kapal yang tewas, satu anggota tim penyelamat juga dilaporkan mengalami luka serius. Serangan tersebut menyebabkan kebakaran di atas kapal serta kerusakan pada sejumlah bagian kapal dagang tersebut.
Kementerian Perhubungan Yaman menilai serangan terhadap Tihama menunjukkan peningkatan ancaman Houthi terhadap aktivitas pelayaran komersial.
Ancaman itu tidak hanya menyasar kapal dagang. Tapi, juga berpotensi meluas ke pelabuhan dan fasilitas sipil di wilayah yang dikuasai pemerintah Yaman.
Menurut kementerian, kondisi itu bisa mengancam distribusi makanan dan barang konsumsi yang dibutuhkan jutaan warga Yaman. Hal itu baik di wilayah yang berada di bawah kendali pemerintah maupun wilayah yang dikuasai Houthi.
Penargetan jalur maritim dan kapal dagang tidak hanya mengancam warga Yaman. Tetapi juga merusak keamanan maritim internasional, kepentingan perdagangan global, dan arus pasokan di kawasan serta dunia,”
demikian lanjut keterangan Kementerian Perhubungan Yaman.
Kementerian Perhubungan Yaman menilai serangan tersebut bukan insiden terisolasi. Tapi, melainkan bagian dari ancaman sistematis terhadap keamanan maritim regional dan internasional serta kebebasan navigasi di Laut Merah, Selat Bab al-Mandeb, dan Teluk Aden.
Pihak Yaman juga menyerukan komunitas internasional dan organisasi yang berkepentingan dengan transportasi serta navigasi maritim untuk mengambil langkah tegas guna menjamin keselamatan awak kapal serta pekerja maritim.
Menurutnya, jalur pelayaran internasional tak boleh jadi arena serangan yang membahayakan nyawa pelaut maupun fasilitas sipil.
Atas serangan itu, Kementerian Perhubungan Yaman menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para korban awak kapal Tihama. Otoritas Yaman berharap para korban luka segera pulih.
Kementerian Perhubugan Yaman juga menyampaikan akan terus berkoordinasi dengan mitra internasional serta badan-badan terkait. Koordinasi untuk meningkatkan keamanan navigasi maritim dan melindungi kapal komersial, pelabuhan, serta infrastruktur sipil dari serangan serupa.
























