Maraknya lulusan sarjana yang bekerja di luar bidang pendidikan atau menempati pekerjaan yang sebenarnya tidak mensyaratkan gelar perguruan tinggi menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan dalam pasar kerja Indonesia. Kondisi tersebut menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara pendidikan, kompetensi, dan pekerjaan yang tersedia.
Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Tidar, Arif Novianto menilai persoalan tersebut tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada perguruan tinggi.
Saya kira keduanya berpengaruh, tetapi jangan sampai seluruh beban kesalahan diletakkan pada perguruan tinggi,”
kata Arif kepada Owrite, Kamis, 13 Agustus 2026.
Dia mengakui masih terdapat persoalan mismatch antara kurikulum, kompetensi lulusan, dan kebutuhan dunia kerja. Karena itu, perguruan tinggi tetap perlu melakukan perbaikan agar kompetensi lulusan lebih relevan dengan kebutuhan pasar kerja.
Namun, menurut Arif, persoalan tersebut harus dilihat dari sisi penawaran dan permintaan tenaga kerja secara bersamaan.
Jadi kita perlu melihat supply dan demand secara bersamaan. Jangan hanya bertanya mengapa lulusan tidak sesuai kebutuhan industri?, tetapi juga mengapa industri kita tidak cukup menciptakan pekerjaan berkualitas bagi tenaga kerja terdidik?”
ujarnya.
Sarjana Bekerja di Bawah Kualifikasi


Arif mengatakan fenomena sarjana yang bekerja pada pekerjaan yang tidak membutuhkan gelar perguruan tinggi dapat masuk dalam kategori underemployment, terutama apabila pekerjaan tersebut berada di bawah tingkat pendidikan atau kompetensi yang dimiliki.
Bisa masuk kategori underemployment, khususnya kalau pekerjaan yang dilakukan berada di bawah tingkat pendidikan atau kompetensi yang dimiliki. Tetapi secara statistik, underemployment punya definisi yang lebih spesifik,”
beber Arif.
Menurut dia, fenomena mismatch justru penting mendapat perhatian karena seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan S1 bisa saja bekerja pada pekerjaan yang sebenarnya dapat dilakukan tanpa pendidikan tinggi.
Kondisi tersebut membuat seseorang memang tidak lagi tercatat sebagai penganggur. Namun, investasi pendidikan yang telah dikeluarkan belum tentu termanfaatkan secara optimal dalam pekerjaan yang dijalani.
Kualitas Serapan Tenaga Kerja
Arif menilai kondisi ini menjadi persoalan tersembunyi dalam pasar kerja. Angka pengangguran yang relatif terkendali belum tentu menggambarkan kualitas penyerapan tenaga kerja secara keseluruhan.
Ini yang sering disebut sebagai hidden problem pasar kerja: angka pengangguran terlihat baik, tetapi kualitas pekerjaan dan pemanfaatan kompetensi pekerjanya belum tentu baik,”
tutur Arif.

























