Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar angkat bicara perihal polemik yang ramai di media sosial karena menggelar lomba hafalan Al-Qur’an dalam rangka perayaan 17 Agustus, namun hadiah yang diberikan justru minuman keras (miras).
Nasaruddin mengingatkan, semangat memeriahkan hari kemerdekaan tetap perlu memperhatikan sensitivitas dalam kehidupan beragama.
Menurutnya, kegembiraan tidak seharusnya diwujudkan dengan cara yang berpotensi menimbulkan persoalan baru.
Di situ ada kombinasi antara kegembiraan pada satu sisi ya, mungkin apa ya istilahnya itu, kemeriahan 17 Agustusan tapi mungkin sadar atau nggak sadar berikan hadiah itu seperti itu,”
kata Nasaruddin di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat, 14 Agustus 2026.
Dia menilai, persoalan tersebut semestinya bisa dihindari jika penyelenggara lebih berhati-hati dalam menentukan bentuk kegiatan maupun hadiah yang diberikan.
Tapi kan kita sudah berikan peringatan bahwa hal-hal seperti itu agak sensitif kan. Boleh gembira tetapi jangan sampai nanti salah dalam membuat satu langkah ya,”
ujarnya.
Aparat Penegak Hukum
Adapun, kasus tersebut kini telah masuk ke ranah hukum. Terkait penanganan perkara tersebut sudah menetapkan tersangka, Nasaruddin menyerahkan proses tersebut kepada aparat penegak hukum.
Saya kira itu dah ada tersangka nya mungkin ini mendukung juga atau gimana. Ya sudah ditangani pihak berwajib. Kita tunggu,”
katanya.
Nasaruddin tidak masuk lebih jauh ke dalam proses hukum yang sedang berjalan. Dia memilih menunggu penanganan aparat untuk memastikan duduk perkara dan pihak-pihak yang bertanggung jawab.




















