Program Motor Listrik Nasional (Molinas) yang digagas Presiden Prabowo Subianto masih menjadi perhatian publik.
Selain menawarkan peluang pengembangan kendaraan listrik nasional, program tersebut juga menghadapi sejumlah tantangan yang perlu diselesaikan pemerintah.
Salah satu persoalan yang menjadi sorotan adalah kesiapan infrastruktur pengisian daya, termasuk Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).
Pengamat otomotif lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Pasaribu, menilai kebutuhan SPKLU untuk sepeda motor listrik sebenarnya berbeda dengan kendaraan listrik roda empat.
Menurut Yannes, pengguna motor listrik pribadi tidak memiliki ketergantungan terhadap SPKLU sebesar pengguna kendaraan listrik yang digunakan secara intensif.
Mayoritas pemilik motor listrik perorangan dapat melakukan pengisian daya di rumah. Kondisi ini membuat kebutuhan SPKLU untuk penggunaan harian tidak selalu menjadi persoalan utama.
Untuk sepeda motor listrik pengguna perorangan, ketergantungannya terhadap SPKLU sebenarnya tidak sebesar penggunaan untuk fleet atau ride-hailing, karena mayoritas pengisian daya dapat dilakukan di rumah,”
kata Yannes kepada owrite.id.
Meski demikian, kesiapan listrik di rumah menjadi faktor penting. Pemerintah dinilai perlu mempertimbangkan program peningkatan kapasitas listrik secara gratis bagi masyarakat yang membeli motor listrik, khususnya pelanggan dengan daya 450–900 VA.
Dengan peningkatan kapasitas tersebut, pemilik kendaraan diharapkan dapat melakukan pengisian daya di rumah secara lebih optimal.
SPKLU Penting
Kebutuhan terhadap SPKLU akan berbeda bagi pengguna yang memanfaatkan motor listrik untuk aktivitas dengan intensitas tinggi.
Pengemudi ride-hailing, kurir, hingga perusahaan yang menggunakan kendaraan dalam skema fleet membutuhkan kendaraan yang dapat beroperasi dalam waktu panjang. Mereka juga memiliki waktu yang lebih terbatas untuk menunggu proses pengisian baterai.
SPKLU menjadi jauh lebih penting ketika motor digunakan dengan intensitas tinggi, seperti untuk ride-hailing, kurir, atau kebutuhan fleet yang tidak memiliki banyak waktu untuk berhenti mengisi daya,”
tambahnya.
Karena itu, pembangunan infrastruktur pengisian daya perlu disesuaikan dengan karakteristik pengguna motor listrik.
Yannes menilai kesiapan infrastruktur kendaraan listrik juga tidak cukup diukur berdasarkan jumlah SPKLU secara nasional.
Hal yang lebih penting adalah bagaimana titik-titik pengisian tersebut tersebar dan apakah lokasinya sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Jika SPKLU hanya terkonsentrasi di kota-kota besar dan Pulau Jawa, sementara Molinas juga menyasar petani, pelaku UMKM, serta masyarakat di wilayah perdesaan, maka strategi infrastrukturnya perlu dibuat berbeda.
Pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan penambahan jumlah SPKLU sebagai solusi tunggal.
Untuk pengguna di wilayah perdesaan atau masyarakat yang menggunakan motor listrik untuk aktivitas sehari-hari, fasilitas pengisian daya di rumah dapat menjadi salah satu kebutuhan utama.
Selain memastikan kapasitas listrik rumah tangga mencukupi, fasilitas charging rumahan juga harus aman dan terjangkau.
Yang justru lebih mendesak adalah memastikan kapasitas listrik rumah tangga memadai, fasilitas charging rumahan aman dan terjangkau, serta battery swapping tersedia bagi pengguna dengan tingkat utilisasi tinggi,”
ujarnya.
Dengan demikian, pembangunan ekosistem motor listrik perlu mempertimbangkan pola penggunaan kendaraan, bukan sekadar mengejar jumlah infrastruktur secara nasional.
Battery Swapping
Selain SPKLU, teknologi battery swapping atau penukaran baterai dapat menjadi alternatif bagi pengguna yang membutuhkan waktu operasional lebih panjang.
Model tersebut memungkinkan pengguna mengganti baterai yang sudah habis dengan baterai yang telah terisi, sehingga waktu berhenti dapat ditekan dibandingkan pengisian baterai secara konvensional.
Fasilitas semacam ini dapat menjadi lebih relevan bagi pengemudi ride-hailing, kurir, maupun pengguna fleet yang membutuhkan kendaraan sepanjang hari.
Yannes menekankan bahwa tidak semua daerah membutuhkan pendekatan infrastruktur yang sama.
Kondisi geografis, kapasitas jaringan listrik, pola mobilitas, serta jenis pengguna harus menjadi pertimbangan dalam menentukan fasilitas yang dibangun.
Jadi, kebutuhan infrastrukturnya harus mengikuti karakter pengguna dan kondisi wilayah masing-masing, bukan menggunakan satu solusi yang sama untuk semua kebutuhan,”
tambahnya.
Dengan demikian, kesiapan infrastruktur menjadi salah satu pekerjaan penting dalam pengembangan Motor Listrik Nasional. Namun, persoalannya tidak berhenti pada berapa banyak SPKLU yang tersedia.
Pemerintah perlu membangun ekosistem yang mencakup peningkatan daya listrik rumah tangga, fasilitas charging rumahan, SPKLU di lokasi strategis, hingga battery swapping untuk pengguna dengan mobilitas tinggi.
Jika infrastruktur tersebut dikembangkan berdasarkan kebutuhan masing-masing wilayah dan karakter pengguna, Molinas berpeluang memiliki ekosistem yang lebih siap untuk mendukung penggunaan motor listrik secara luas.
























