Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, mengatakan tidak ada seorang pun yang dapat memastikan kapan ketegangan geopolitik global akan berakhir. Selain itu, ketidakpastian geopolitik membuat harga minyak dunia bergerak tidak menentu dan sulit diprediksi.
Bahlil pun mengibaratkan kondisi geopolitik dunia saat ini seperti orang yang sedang sakit malaria. Kondisi tersebut turut memberikan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi dunia.
Kita tahu bahwa sampai dengan hari ini kondisi geopolitik dunia tidak ada satu orang pun yang dapat memprediksi kapan ketegangan ini selesai. Dampaknya apa? Pertumbuhan ekonomi global terkoreksi,”
kata Bahlil saat memberikan sambutan dalam pembukaan Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition (IIGCE) 2026, Rabu, 19 Agustus 2026.
Proteksi Kepentingan Negara


Dia kemudian menggambarkan volatilitas harga minyak yang mengikuti perkembangan geopolitik dunia seperti penyakit malaria.
Dan kondisi ini semakin hari membuat hampir semua pemimpin dunia akan memprioritaskan dalam membangun program untuk memproteksi kepentingan negara masing-masing. Dalam kondisi geopolitik yang tidak menentu tadi maka apa yang terjadi? Harga daripada minyak dunia saya memperumpamakan seperti orang sakit malaria. Pagi bisa turun, malam bisa naik,”
ujarnya.
Bahlil mengatakan pergerakan harga minyak bahkan dapat berubah dalam hitungan hari, bergantung pada perkembangan isu geopolitik, termasuk situasi di Selat Hormuz.
Tergantung daripada kesepakatan dan isu yang dibangun antara Selat Hormuz dikuasai oleh siapa dan sudah ditutup atau sudah dibuka,”
katanya.
Kedaulatan Energi


Menurut Bahlil, ketergantungan dunia terhadap jalur dan sumber energi yang rentan terdampak konflik geopolitik menjadi persoalan serius bagi kedaulatan energi setiap negara, termasuk Indonesia.
Bayangkan kalau hampir semua dunia menggantungkan hidupnya di sektor energi gara-gara Selat Hormuz, di mana letak kedaulatan dan kemerdekaan sebuah bangsa termasuk Indonesia,”
tuturnya.
Atas kondisi tersebut, Bahlil mengatakan Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan pemerintah untuk mencari terobosan dalam memperkuat kedaulatan energi nasional.
Bahlil menilai penguatan energi baru terbarukan menjadi salah satu langkah yang perlu dilakukan Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Pemerintah, kata dia, tetap berkomitmen mendorong transisi energi sekaligus menjaga ketahanan energi nasional.






















