Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkap paradoks pengembangan energi panas bumi atau geotermal Indonesia. Di satu sisi, Indonesia memiliki potensi sumber daya geotermal terbesar di dunia. Namun, dari sisi pemanfaatannya, Indonesia justru masih berada di bawah Amerika Serikat (AS).
Bahlil mengatakan Indonesia saat ini menempati posisi pertama dunia dari sisi sumber daya geotermal. Namun, keunggulan tersebut belum mampu membuat Indonesia menjadi negara dengan pemanfaatan geotermal terbesar.
Geotermal ini tadi sudah disampaikan oleh Ketua Asosiasi dan Ibu Enia bahwa Indonesia adalah negara nomor satu di dunia yang mempunyai resource terhadap geotermal. Kita nomor satu tetapi dalam implementasinya kita itu nomor dua,”
kata Bahlil saat sambutan dalam pembukaan Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition (IIGCE) 2026 di Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026.
AS Posisi Teratas


Bahlil menyebut Amerika masih berada di posisi teratas dalam implementasi atau pemanfaatan geotermal. Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk mempercepat pengembangan potensi panas bumi di dalam negeri.
Amerika masih nomor satu,”
ujarnya.
Bahlil menambahkan dirinya sejak menjabat sebagai Menteri ESDM telah mengecek berbagai faktor yang membuat pengembangan geotermal Indonesia berjalan lambat. Menurutnya, salah satu persoalan yang selama ini menghambat adalah panjangnya tahapan regulasi.
Sejak saya dilantik jadi Menteri ESDM saya cek apa sih yang membuat lambat karena saya dulu (saya) pengusaha juga. Saya dulu sebelum masuk di pemerintah, saya pengusaha,”
tutur Bahlil.
Masih Banyak Hambatan
Dia mengatakan pemerintah telah memangkas sejumlah tahapan regulasi untuk mempercepat investasi. Namun, setelah dilakukan evaluasi, masih terdapat berbagai hambatan yang perlu diselesaikan.
Dan sekarang ternyata setelah saya evaluasi, masih banyak juga hambatan-hambatan terhadap aturan-aturan itu,”
ungkapnya.
Karena itu, Bahlil menekankan perlunya kolaborasi antara pemerintah sebagai regulator dan pelaku usaha untuk mempercepat pengembangan geotermal.
Tidak ada cara lain adalah untuk melakukan percepatan implementasi geotermal supaya bisa menjadi listrik ataupun menjadi yang lain adalah harus ada kolaborasi antara pengusaha dan regulator. Tidak bisa main sendiri-sendiri,”
imbuh Bahlil.




















